Tags

,

aitsu

Jimat aitsu adalah jimat yang diminta oleh para wanita untuk keselamatan laki-laki yang dicintainya. Dari kata Ai artinya cinta dan tsu (chuujitsu) yang artinya ketulusan. Jimat ini melambangkan ketulusan cinta dari seorang wanita untuk laki-laki yang dikasihinya.

—————————-

Note : Semua nama dan legenda tentang jimat aitsu adalah karangan Vea. Kalau ada yang kebetulan mirip itu tidak disengaja. Temen Vea bilang kalau ceritanya ngingetin dia dengan kisah Nabi Ayub a.s dan istrinya. Vea membuat fanfic ini untuk Takelicious dan semua pecinta dorama jepang. Selamat menikmati.

*
*
*

10847827_412817442202249_4607320636500265630_n

Takeru satoh. Laki-laki berumur tujuh belas tahun itu menatap salju yang melayang ringan di udara dari balik jendela kaca lorong rumah sakit. Sebelah tangannya menggenggam tiang infuse yang saat ini terhubung dengan lengannya. Sudah hampir dua minggu ia ada di rumah sakit ini. Tumor otak, mengharuskannya untuk terapi.

Ia mendapatkan penyakit itu lima tahun yang lalu. Tiga tahun yang lalu, Takeru sudah pernah menjalani operasi. Namun sepertinya tumor yang dimilikinya tidak benar-benar menghilang. Sekarang ia harus kembali berhadapan dengan penyakit itu.

Sebenarnya ia sudah bosan. Ia tidak ingin merepotkan orang tuanya. Kalau memang sudah waktunya, ia rela tuhan mengambilnya setiap saat. Tapi demi ibunya, ia menjalani terapi ini. Ia tidak ingin melihat ibunya sedih.

Ia ingat pembicaraannya dengan sang nenek dulu saat ia masih duduk di junior highschool. Neneknya pernah menggodanya dengan pertanyaan tipe gadis seperti apa yang ia sukai. Takeru menjawab dengan wajah polos, ‘Aku suka anak perempuan yang sering terjatuh. Karena aku bisa membantunya saat dia jatuh’.

Takeru tersenyum saat mengingat hal itu. Mungkin ia tidak akan pernah sempat jatuh cinta. Dokter mengatakan bahwa ia punya harapan, tapi Takeru tidak yakin. Terus terang saja, ia sudah bosan dengan terapi yang dijalaninya.

“Huwaaa…”

Bruuuk…

Takeru tersentak kaget dan langsung membalikkan badannya. Ia melihat gadis itu telungkup di lantai. Sepertinya baru saja menabrak troli yang dibawa oleh seorang suster. Membuat peralatan kesehatan itu berhamburan di sekitar gadis itu.

“Itaii (sakit)…” rintih gadis itu sambil berusaha bangun.

“Hishano… san?” gumam Takeru saat mengenali siapa gadis itu. gadis yang memiliki rambut paling panjang di kelasnya. Hishano Kisa.

“Oh Satoh kun_ ah, gomenasai (aku minta maaf)…” pekik gadis itu sambil cepat-cepat membantu suster merapikan kembali peralatan kesehatan yang berceceran di lantai. “Hontou ni gomenasai ( aku benar-benar minta maaf)…” ucapnya sekali lagi.

Suster itu tersenyum, “Daijoubu desuyo (tidak apa-apa)…” jawabnya kemudian melangkah pergi sambil mendorong trolinya.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Takeru bingung.

“Kebetulan aku sedang mengantar adikku untuk cabut gigi. Jadi aku menyempatkan untuk melihatmu sebentar. Bagaimana keadaanmu?”

“Souka…? (begitukah?) Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah datang.”

Gadis itu berdiri di sebelah takeru sambil ikut menatap salju. “Kirei desu ne? (cantik bukan?) Ano yuki (salju itu).”

“Mmm,” Takeru mengangguk pelan, “Sepertimu.”

Beberapa detik keduanya terdiam mencerna satu kata itu. “EEEH…” Takeru menatap terkejut saat menyadari apa yang baru saja diucapkannya. “Ma-maksudku salju itu sepertimu. Kau terlihat sangat putih diantara rambut hitam kelammu.”

Kisa tersenyum mendengarnya, “Souka? (begitukah?) A-ah… aku hampir saja lupa.” Gadis itu mengambil tasnya lalu mengeluarkan selembar kertas. “Untukmu.”

“Ini…”

“Sensei memberikannya beberapa hari yang lalu. Karena kau tidak ada aku mengambilkan satu untukmu. kau juga harus mengisinya.”

Takeru terdiam menatap lembar kertas yang berisi rencana masa depan itu. Ia tidak yakin ingin menjadi apa nantinya. “Kau sudah mengisinya?”

Kisa menggeleng, “Aku belum tau mau menjadi apa.”

Keduanya terdiam.

“Daijoubu (tidak apa-apa), kita masih punya waktu untuk mengisinya dan menyerahkannya pada sensei.”

“Entahlah…” gumam Takeru pelan.

******

“Huaaaa…”

Bruuuk…

“Itaiii…”

Takeru menatap gadis itu tercengang sesaat. Kemudian bibirnya tertawa pelan. Kakinya melangkah menghampiri gadis itu sambil menyeret tiang infusnya. Sudah dua kali Takeru melihat gadis itu terjatuh. Mungkin dia memang punya masalah dengan keseimbangan.

“Apa yang kau lakukan?”

“Oh Satoh kun!” gadis itu berusaha untuk berdiri sambil memegang pantatnya yang sakit, “Anak-anak ini akan berjalan di lantai yang basah, jadi aku menghalangi mereka. Tapi malah aku yang terjatuh. Petugas sepertinya lupa memasang tanda lantai basah setelah mengepelnya.”

Takeru mengangguk mengerti. “Apa kau ada urusan lagi di rumah sakit, Hishano san?” tanyanya kemudian.

Bibir gadis itu menyengir. Ia menarik lengan Takeru, mengajak laki-laki itu kembali ke kamar rawatnya.

“Onegaishimasu (aku mohon bantuannya),” ucap Kisa setelah meletakkan tumpukan buku di atas meja dorong milik rumah sakit untuk pasien makan.

“Kau ingin aku mengajarimu?”

“Hai’ (ya). Aku sudah mencatat semua yang sensei jelaskan. Tapi tetap saja aku tidak mengerti. Aku tau kau pintar hanya dengan sekali membaca. Dakara, oshiete kudasai! (karena itu, tolong ajari aku),” pinta gadis itu dengan kedua tangan menangkup di depan wajah.

“Apa yang kudapatkan kalau aku mengajarimu?”

“E-EH???” kisa memekik tertahan. Gadis itu merogoh saku roknya lalu mengeluarkan uang recehan, “Aku hanya punya ini.” desahnya.

Takeru tertawa keras, “Aku hanya bercanda. Jadi… darimana kita memulainya?”

“Hontou?? (sungguh?)” seru gadis itu senang, “Aku akan berdo’a untukmu setiap hari agar kau sembuh dan bisa mengajariku terus.”

Bibir laki-laki itu tersenyum menatapnya, “Arigato…” ucapnya pelan. Ia tau kalau sebenarnya gadis itu tidak ingin Takeru melewatkan pelajarannya di sekolah.

*****

Mungkin memang benar cinta itu bisa tumbuh dari kebersamaan. Makan bersama, belajar bersama, menghabiskan waktu bersama, membuat keduanya larut dalam kenyamanan itu. untuk pertama kalinya takeru ingin tetap hidup. Agar ia bisa bersama dengan gadis itu.

“Dokter, kalau aku di operasi apa aku akan sembuh?” tanya Takeru.

Dokter yang sedang sibuk mencatat itu menghentikan gerakannya lalu menatap takeru, “Tiga puluh persen. Kemungkinan kau sembuh tiga puluh persen.”

“Sebelumnya aku sudah pernah menjalani operasi. Tetapi aku tidak bisa benar-benar sembuh. Jika aku termasuk tiga puluh persen itu, apa kau yakin aku benar-benar akan sembuh?”

Pria berkaca mata itu terdiam sejenak, “Kami akan melakukan yang terbaik untukmu. setidaknya waktumu bisa lebih panjang jika operasi ini berhasil. Tapi kemungkinan kau akan kehilangan ingatan. Aku harus membicarakan ini dengan orang tuamu terlebih dahulu. Lebih cepat operasi dilakukan akan lebih baik.”

Takeru tercenung. Ingatannya akan terhapus… Ia tidak akan mengingat lagi siapa orang tuanya, gadis itu bahkan dirinya sendiri. Ia ingin tetap hidup, tapi ia juga tidak ingin ingatannya terhapus. Mana yang harus dipilihnya?
.
.
Gadis itu berjalan sambil tersenyum senang. Ia akan belajar lagi dengan laki-laki itu. kali ini ia membawa Fruit Stew yang dibikinnya sendiri. Pasti dia akan senang. Kisa pertama kali melihat Takeru saat laki-laki itu mengembalikan sapu tangan miliknya yang terjatuh tanpa disadarinya. Sejak itu, ia selalu memperhatikan Takeru diam-diam. Hanya saja ia tidak menyangka bahwa mereka akan sekelas saat kelas dua. Tapi mendengar kabar bahwa Takeru memiliki penyakit membuatnya sedih. Sejak itu, Kisa ingin mengungkapkan apa yang dirasakannya sebelum semuanya terlambat. Setidaknya ia ingin laki-laki itu menganggapnya ada.

Mata hitam kelam itu terlihat bingung saat melihat kamar takeru kosong. Gadis itu cepat-cepat menahan seorang suster yang kebetulan sedang berjalan di lorong rumah sakit. “Pasien disini apa sudah pulang suster?”

“Ah, Satoh kun? Dia di ruang ICU sekarang. Penyakitnya kambuh tadi siang_”

Bahkan sebelum suster itu menyelesaikan kalimatnya, gadis itu sudah berlari pergi. Wajahnya terlihat khawatir. Rambut panjangnya terurai mengikuti langkahnya. Kisa sampai ruang ICU saat laki-laki itu dalam perawatan. Ia hanya bisa menatap laki-laki itu dari luar dinding kaca.

“Ano… Apa kau teman Takeru?”

Gadis itu mengerjap kaget saat seorang wanita menyapanya, “Ha-hai’…” jawabnya bingung.

“Aku adalah ibu Takeru. Bisa kita berbicara sebentar?”
.
.
“Dia harus secepatnya dioperasi. Tapi sampai sekarang Takeru belum memutuskan. Apakah kalian teman akrab? Tolong bicaralah dengannya. Mungkin dia mau mendengarmu.” Pinta wanita itu, “Aku tau dia masih bingung. Karena kalau operasinya berhasil, kemungkinan ingatannya akan terhapus.”

“Terhapus?” Kisa menatap terkejut.

“Hai’. Tapi kalau dia tidak di operasi… Aku tidak ingin melihatnya sakit seperti tadi. Sebelum semuanya terlambat. Dia masih punya kesempatan sekarang. Kumohon, bantulah aku.”

“A-aku akan mencoba bicara dengannya…”

“Hontou…? Arigato gozhaimasu…”

Kisa tersenyum sambil mengangguk pelan. Dalam hati ia juga merasa bimbang. Jika ingatan laki-laki itu terhapus… Mata hitamnya menatap sosok yang ada di dalam ruang ICU itu. Tidak… Takeru tidak boleh pergi. Tidak apa-apa jika ia dilupakan. Asalkan laki-laki itu sembuh.

*****

Jemari lentik itu membuka pintu kaca dengan ragu. Ia masuk perlahan sambil menatap ke dalam ruang salon itu.

“Ada yang bisa kubantu?” tanya seorang wanita dengan tag name Shizuka Ohara sambil tersenyum padanya, “Ayo masuklah, jangan ragu-ragu.” Wanita itu menarik Lengan kisa dan seketika berbinar saat melihat rambut panjangnya, “Kirei… (cantiknya) Apa kau ingin mencuci rambutmu? Aku akan membuatnya semakin indah.”

“Bu-bukan… Ma-maksudku, aku ingin memotongnya…”

“Nani??” Shizuka menatap terkejut, “Kau ingin memotong rambutmu? Apa kau yakin? Rambutmu sangat indah.”

Kisa tersenyum, “Aku ingin menukarnya dengan jimat Aitsu.”

“Ooh… Duduklah kalau begitu,” wanita itu membawa kisa ke salah satu kursi salon kemudian menyiapkan peralatannya, “Apa dia sakit?”

“Hai,”

“Semoga dia cepat sembuh. Seberapa panjang aku harus memotongnya?”

Kisa menjawab dengan jemarinya yang menunjukkan batas garis potongan.

“Kau yakin?”

“Hai.”

“Baiklah…”

“Arigato gozhaimasu, Ohara san.”

****

“Doushite…?” Takeru menatap tidak percaya apa yang dilihatnya, “Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau memotong rambutmu?”

“Satoh kun…” panggil gadis itu pelan, “Tolong jalani operasi itu.”

“Kenapa tiba-tiba…” ucapan Takeru terputus saat gadis itu tiba-tiba saja menarik lengannya lalu mengikatkan sesuatu di pergelangan tangannya.

“Aku menukar rambutku untuk ini…”

“Nani?” tanya Takeru bingung sambil menatap benda berwarna merah itu. Ada sebuah symbol bunga yang tersulam dengan benang emas. Seperti sebuah jimat.

“Ini adalah jimat Aitsu… Aku memintanya di kuil untuk kesembuhanmu. Dakara, kau harus menjalani operasi itu. Aku yakin kau akan sembuh.”

“Tapi… Ingatanku akan terhapus kalau operasi itu berhasil. Aku akan melupakanmu…”

“Wakatteruyo… (aku sudah tau).” Air mata gadis itu menggenang, “Meskipun ingatanmu terhapus, kita masih bisa bersama. Aku akan kembali datang kepadamu dan mengatakan ‘hajimemashite, atashi wa hishano kisa desu’. Aku tidak keberatan untuk mengatakan hal itu. Dakara… Kebersamaan ini tidak akan ada artinya kalau kau pergi tanpa berusaha terlebih dahulu. Aku yakin kau akan sembuh. Aku berjanji kita bisa bersama lagi setelah kau sembuh.”

Takeru terdiam. Jemarinya terulur, menyentuh helai rambut pendek itu, “Gomene, kau jadi kehilangan rambut indahmu…”

“Yang lebih berarti bagiku adalah Satoh kun. Kalau aku diberi kesempatan seribu kali untuk memilih, seribu kali pula aku akan membuang rambutku untukmu. Dakara, kau harus sembuh untukku. Agar kita bisa belajar bersama lagi, makan bersama, tertawa bersama, menangis bersama… Aku bahagia saat menghabiskan waktu denganmu.”

Jemari tangan takeru terulur menyentuh helai rambut pendek itu lalu menangkup pipi gadis di depannya, “Arigato, Kisa…” bisik laki-laki itu sebelum meraih wajah itu lalu menempelkan bibir mereka.

Air mata Kisa meluncur jatuh. Hatinya menghangat mendengar Takeru memanggil nama kecilnya. Beberapa menit ini biarlah menjadi miliknya sendiri. Karena memang hanya ia yang akan mengingatnya nanti…

*****

Hari saat Takeru menjalani operasi, gadis itu berada di kuil untuk berdo’a. ia tidak bisa pergi ke rumah sakit karena operasi akan berjalan hingga larut malam sementara esoknya Kisa harus mengikuti tur sekolah ke kota Izumo Selama empat hari. Namun melalui suster yang dikenalnya, ia mendapatkan kabar bahwa operasi Takeru berjalan lancar.

Gadis itu menyempatkan diri untuk mengunjungi kuil Izumo Ōyashiro di kota Izumo. Berterima kasih pada Tuhan karena memberi kesempatan pada laki-laki itu. Ia tidak sabar untuk kembali ke Tokyo dan segera bertemu dengan laki-laki itu.

Ini awal musim semi. Saat kisa kembali ke Tokyo, bunga Sakura mulai bersemi setelah melewati musim dingin. Suasana di kelas itu tampak ramai karena bel masuk belum berbunyi. Gadis itu sedang duduk sambil melamun. Apa laki-laki itu sudah keluar dari rumah sakit? Apa ia harus berkunjung ke rumahnya? Apa yang akan dikatakannya pada laki-laki itu nanti?

“Woah… Takeru!! Kau sudah kembali??” teriakan nyaring Taguchi Junnosuke membuat seisi kelas menatap sosok yang baru saja membuka pintu kelas.

Kisa menatap terkejut. Laki-laki itu sudah kembali ke sekolah? Padahal ia belum tau harus bagaimana. ia melihat Takeru tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“O-ohayou minna… (selamat pagi semuanya)” ucap Takeru gugup, “Sebelumnya aku ingin menyampaikan sesuatu pada kalian. Karena operasi yang kujalani, aku kehilangan ingatan. Karena itu maaf merepotkan kalian lagi.”

“Daijoubu,” ucap Junnosuke sambil menghampiri takeru, “Boku wa Taguchi Junnosuke (aku Taguchi Junnosuke). Aku akan memberitahu apa saja yang sering kau lakukan, termasuk saat kau menyontek tugas milikku.”

“Apa yang kau katakan?” saut Yamada.

“Jangan dengarkan dia, kau adalah murid paling pintar di kelas ini.” sambung Misa.

“Dia yang sering mencontekmu!” tambah Haruma sambil memukul kepala Junnosuke dengan bukunya.

“Itaii… Kenapa kalian sama sekali tidak mendukungku?” gerutu Junnosuke membuat semua tertawa.

Kisa tersenyum lega mendengarnya. Ia senang melihat tawa laki-laki itu.

****

“Kireii…”

Takeru menatap temannya, Junnosuke dengan bingung.

“Dia sangat cantik dengan rambut pendek, benarkan?”

“Dareka?” (siapa?)

“Hishano Kisa. itu, gadis yang berdiri di depan pohon. Dia teman sekelas kita juga.”

“Sakura…” gumam Takeru pelan.

“Nani? (apa?) Kau mengatakan sesuatu?”

“Ah, Iie.. (tidak)” jawab Takeru sambil tersenyum. Matanya menatap gadis itu lagi. Baginya gadis itu terlihat seperti bunga Sakura yang sedang mekar. Senyumnya saat menatap kuncup bunga-bunga di pohon itu sangat cantik.

“Sebenarnya aku sudah lama menyukainya. Tapi aku masih takut untuk bicara dengannya. Dia terlihat ceria pada semua orang.” Kata Junnosuke.

“Ayo!”

“Eh? Kemana?”

“Menemuinya, aku belum berkenalan dengannya. Kau bilang kita satu kelas tadi.”

“Memang benar, tapi… Hoi chotto matte!!(tunggu sebentar!)” teriak Junnosuke saat Takeru sudah berjalan mendahulinya.
.
.
“Hishano san, deshou? (benar?)” tanya Takeru saat ia sudah ada dihadapan gadis itu, “Aku tidak sempat bertanya namamu tadi di kelas jadi Junnosuke yang memberitahuku. Untuk kedepannya mungkin aku akan merepotkanmu. Dakara, yoroshiku onegaishimasu (karena itu, aku mohon bantuanmu).”

Gadis itu tersenyum menatap laki-laki di depannya, “Karena kau tidak ingat, aku akan mengulanginya lagi. Hajimemashite Satoh kun, atashi wa Hishano Kisa desu. Yoroshiku ne…”

Baru saja Takeru akan membuka mulutnya untuk bertanya, matanya menatap seorang gadis berambut panjang sedang berjalan melewati mereka.

“Gadis itu…”

“Nani?” tanya Junnosuke.

“Dia sekelas dengan kita bukan? Yang berambut panjang itu.”

“Sou (benar). Aihara yumi. Doushite? (kenapa?)” Junnosuke menatap terkejut, “Masaka… (tidak mungkin…) Kau menyukainya?”

“Eh?” Takeru menatap terkejut, “Bukan begitu. Hanya saja aku suka melihat rambut panjangnya…”

Kisa terdiam mendengarnya. Bibirnya tersenyum tipis, “Gomene Satoh kun…” gumamnya lirih.

“Eh? Apa kau mengatakan sesuatu?” tanya Takeru sambil menatap gadis yang menunduk di depannya.

“Bukan apa-apa…” jawab Kisa sambil tersenyum.

*****

Takeru memilih duduk di sebuah bangku di dekat jendela untuk menghabiskan makan siangnya. Roti isi yang baru saja dibelinya. Di depannya ada tiga orang gadis yang sedang mengobrol. Mereka juga teman sekelasnya. Hishano Kisa, Aiko Fujiwara, dan Kaito Misa.

“Ne, Kisa chan… Kenapa kau memotong rambutmu hingga sependek ini?” tanya Aiko sambil memainkan helai rambut Kisa.

“Sou (benar), menumbuhkan rambut itu tidak sebentar. Aku tidak pernah memotong rambutku tapi mereka tidak pernah tumbuh,” timpal Misa.

Ah… Obrolan para gadis. Pikir Takeru dalam hati. Laki-laki itu melahap roti isi miliknya tanpa memperdulikan gadis-gadis itu lagi. Mereka mempunyai dunia sendiri yang tidak bisa dimasuki oleh para laki-laki.

“Hoi, disini kau rupanya!” bisik Junnosuke saat ia menemukan Takeru.

“Nani?”

“Ssst…” laki-laki itu langsung meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, memberi isyarat takeru untuk tidak berisik, “Ikutlah denganku sebentar.”

“Doushite?”

“Ikara, hayaku! (tidak apa-apa, cepatlah!)”
.
.
“Festival musim semi?” tanya Takeru saat melihat beberapa lembar tiket yang diberikan oleh Junnosuke.

“Hai’ (ya). Perayaan untuk menyambut tibanya musim semi. Pada tengah malam akan ada pesta kembang api. Karena itu bantulah aku!” Junnosuke menangkupkan kedua tangannya di depan wajah, memohon.

“Membantumu?”

“Aku ingin menyampaikan perasaanku pada Hishano san di festival itu…” jawab Junnosuke malu-malu, “Apakah ada yang ingin kau ajak?”

Takeru terdiam sejenak. Tiba-tiba matanya melihat aihara Yumi yang sedang berjalan masuk ke ruang perpustakaan. “Yumi…”

“Nani?”

“Aihara yumi… Mungkin aku akan mengajaknya.”

“Hontou? Yappari… (sungguh? Sudah kuduga) Kau pasti menyukainya kan?”

Takeru mengusap tengkuknya ragu, “Bukan begitu… Saat aku terbangun setelah operasi, aku melihat sebuah jimat melingkar ditanganku. Aku bertanya pada keluargaku tapi mereka tidak tau. Tapi okasan mengatakan kepadaku mungkin itu dari teman sekelasku yang sering datang menemuiku sebelum operasi. Gadis itu berambut panjang. Jadi… Saat Melihat aihara san, aku ingin bertanya padanya.”

“Woaa… Aku tidak tau kalau hubungan kalian sedekat itu. Kau beruntung, Aihara san populer di kalangan laki-laki.”

“Aku akan coba untuk mengajaknya ke festival itu.”

“Jangan lupa ajak Hishano san juga.”

“Wakatta!”

*****

Langit malam itu terlihat sangat cerah. Banyak yang memakai yukata, gadis-gadis ataupun para laki-laki. Festival pertama penyambutan musim semi saat ini sangat ramai. Gadis itu memakai yukata putih bermotif bunga. Beberapa hiasan bunga menempel di sisi kanan kepalanya. Membuatnya semakin cantik. Ia berdiri di bawah pohon Sakura yang sudah mulai berbunga. Menunggu seseorang yang mengajaknya ke festival ini.

“Hishano san!!”

Matanya mengerjap pelan saat mendengar suara panggilan itu. Taguchi Junnosuke? Gadis itu menatap bingung.

“Maaf membuatmu menunggu lama. Takeru akan segera datang.”

Oh… Gadis itu tersenyum canggung.

“Ah, itu mereka!” kata Junnosuke tiba-tiba, “Hoiii takeru, koko de!! (disini),” teriaknya sambil melambaikan tangan.

Kisa terdiam menatap laki-laki yang sedang berjalan mendekat itu. Dia tidak sendiri. Ada seorang gadis yang berjalan di sebelahnya. Aihara Yumi. Gadis itu memakai kimono berwarna merah muda. Warna bunga sakura. Jadi mereka akan pergi bersama-sama menikmati festifal, bukan hanya ia dan Takeru saja.

Mereka berempat berjalan menikmati permainan-permainan yang ada seperti menangkap ikan dengan jaring kertas, menembak kaleng, juga menikmati jajanan khas jepang seperti takoyaki.

“Ano… Apa kalian mau naik kincir angin? Aihara san ingin mencobanya.” Kata Takeru tiba-tiba.

“Iie, kalian pergi saja!” jawab Junnosuke cepat tanpa menunggu pendapat Kisa, “Kita bertemu disini sejam lagi.”

Takeru mengangguk pelan, “Wakatta!”

Kisa menatap kedua orang yang berjalan pergi itu sambil melamun. Apa Takeru menyukai gadis itu? Dia terlihat senang saat bersama gadis itu.

“Ano… Hishano san…” panggil Junnosuke ragu, “Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Ayo kita cari tempat yang tidak begitu ramai.”

Mau tidak mau gadis itu mengangguk sambil tersenyum. Ia mengikuti langkah Junnosuke dengan pikiran tidak focus. Apa yang harus dilakukannya jika memang laki-laki itu menyukai Aihara Yumi? Apa ia akan melepasnya? Takeru bahkan tidak ingat sedikit-pun tentangnya.
.
.
“Takeru san, kenapa kau bilang pada mereka kalau aku ingin naik kincir angin? Aku takut ketinggian…” tanya gadis itu saat mereka sudah berpisah.

“Junnosuke ingin mengatakan sesuatu pada Hishano san, jadi kita harus memberinya kesempatan,“ jawab Takeru.

“Aah… Souka (begitu…)”

“Ano, Aihara san… Aku ingin bertanya padamu.”

“Nanika?” (apa itu?)

“Apa kau tau benda ini?” tanya Takeru sambil mengeluarkan sebuah jimat yang melingkar di pergelangan tangannya saat ia bangun dari operasi.

“Jimat itu… Masaka… Jimat Aitsu?” gadis itu menatap takjub.

“Kau tau?”

“Lihat symbol bunga yang disulam dengan benang emas ini. Bunga Camellia (tsubaki), melambangkan cinta dan ketulusan. Ada legenda yang dimiliki oleh jimat Aitsu ini. Jimat ini hanya bisa didapatkan oleh seorang gadis atau seorang wanita.”

“Kenapa?”

“Jimat aitsu adalah jimat yang diminta oleh para gadis atau wanita untuk keselamatan laki-laki yang dicintainya. Dari kata Ai artinya cinta dan tsu (chuujitsu) yang artinya ketulusan. Jimat ini melambangkan ketulusan cinta dari seorang wanita untuk laki-laki yang dikasihinya.

Dulu, ada seorang laki-laki yang sukses. Ia memiliki istri yang sangat cantik. Kulitnya putih bagai salju, rambutnya berwarna hitam kelam dan sangat panjang. Kabarnya ada yang iri oleh kesuksesan dan keberutungan laki-laki itu. Suatu hari, si suami jatuh sakit. Tidak ada yang tau penyakit apa yang dideritanya hingga semakin lama, harta yang dimilikinya semakin habis. Sang istri sangat mencintai suaminya. Ia tidak pernah pergi meskipun mereka sudah jatuh miskin.

Saat obat untuk sang suami habis, si istri kebingungan karena tidak punya uang yang tersisa. Akhirnya ia memotong rambutnya sangat pendek lalu menjualnya. Tapi saat itu rambut bukanlah sesuatu yang penting seperti jaman sekarang. Tidak ada yang mau membelinya. Karena putus asa, wanita itu menangis tersedu-sedu di pinggir sebuah sumur.

Tiba-tiba datang seorang biksu yang kebetulan lewat. Wanita itu bercerita apa yang dialaminya saat biksu itu bertanya. Kemudian si biksu bersedia membeli rambutnya. Ia memberikan wanita itu uang dan sebuah jimat. Ia mengatakan bahwa jimat itu mungkin bisa membantunya kalau wanita itu mau berdoa dengan setulus hati. Lalu biksu itu melempar rambut si wanita ke dalam sumur.

Ajaibnya, si suami kemudian sembuh dari sakitnya. Dan legenda itu menyebar luas. Sumur tempat si biksu membuang rambut sang istri sekarang sudah menjadi kuil besar. Biasanya para wanita atau gadis akan meminta jimat Aitsu jika suaminya atau laki-laki yang dicintainya sedang sakit atau akan berpergian jauh.”

“Jadi… Untuk mendapatkan jimat ini, seorang gadis harus memotong rambutnya?”

“Sou (benar),” jawab Yumi, “Kau beruntung sekali… Ada gadis yang mengorbankan rambutnya untukmu. Mungkin aku juga akan melakukannya saat laki-laki yang kusukai sedang sakit. Jadi… Siapa dia?”

“Hah?”

“Gadis itu, siapa dia?”

Takeru terdiam. Satu hal yang didapatkannya, bukan Aihara Yumi yang memberikan jimat ini padanya. Kalau ibunya bilang gadis itu teman sekelasnya yang berambut panjang, Berarti sekarang gadis itu pasti sudah memotong rambutnya untuk mendapatkan jimat ini.

“Masaka… (tidak mungkin),” gumam Takeru saat menyadari sesuatu.

‘Dia sangat cantik dengan rambut pendek, benarkan?’

‘Ne, Kisa chan… Kenapa kau memotong rambutmu hingga sependek ini?’

Takeru tersentak, “Aihara san… Siapa, siapa gadis dikelas kita yang punya rambut panjang selain dirimu?”

“Rambut panjang? Sebenarnya yang punya rambut paling panjang di kelas adalah Kisa chan. Tapi seminggu yang lalu dia memotongnya. Sayang sekali… rambutnya sangat indah. Chotto… (tunggu) Apa dia yang memberimu jimat itu?”

“Aihara san, aku pergi sebentar. Gomenasai!” ucap Takeru cepat kemudian berlari pergi.

Laki-laki itu mencari diantara kerumunan orang-orang yang tengah menikmati festifal. Matanya menatap sekeliling, mencoba mencari dimana keberadaan Kisa dan Junnosuke. Ia harus menemukan gadis itu… Wajahnya begitu gelisah. Ia tidak ingin terlambat.

Tiba-tiba matanya menangkap sosok gadis itu dari kejauhan. Gadis itu sedang berdiri di tepi sungai bersama Junnosuke. Tanpa membuang waktu takeru segera berlari menghampiri mereka.
.
.
“Kumohon, jadilah kekasihku!” ucap Junnosuke dengan tegas sambil membungkukkan badannya.

“Taguchi kun…”

Laki-laki itu mengangkat wajahnya, menatap gadis itu lagi. “Sebenarnya sudah lama aku menyukaimu.”

“Arigato, Taguchi kun… Soushite, gomenasai… (dan maafkan aku)” jawab Kisa sambil tersenyum muram, “Apa kau tau kenapa aku memotong rambutku?”

“Nande?” (kenapa?)

“Aku menukarnya dengan jimat Aitsu. Untuk mendoakan keselamatan laki-laki yang kusukai.”

“Ja-jadi begitu… Sudah ada laki-laki yang kau sukai. Apa aku mengenalnya?”

Kisa menatap ragu, “Dia…”

“Takeru…”

Gadis itu tersentak, “Bagaimana kau tau laki-laki itu adalah Satoh kun?” tanyanya, “Sebelum dia di operasi, aku sudah berjanji padanya kalau kami akan menghabiskan waktu bersama. Meskipun sekarang dia tidak mengingatku, aku akan tetap memegang janjiku. Dakara, hontou ni gomenasai,” Kisa membungkukkan tubuhnya meminta maaf.

“Daijobu,” jawab laki-laki itu kemudian. Kisa mengangkat tubuhnya dan mendapati Junnosuke sedang tersenyum padanya, “Memang aku yang terlambat. Sebenarnya, Takeru juga sedang mencari gadis yang memberinya jimat.” Jelas Junnosuke, “Ne, Takeru?”

Gadis itu mengerjap pelan. Kepalanya perlahan bergerak ke belakang dan terkejut saat melihat Takeru sudah berdiri tidak jauh di belakangnya.

“Na takeru, kurasa kalian perlu waktu untuk bicara.” Kata Junnosuke sambil melangkah pergi.

“Junnosuke!” panggil Takeru, “Aku meninggalkan Aihara san di dekat kincir angin. Bisakah kau menemaninya?”

“Yosh! Serahkan padaku. Mungkin naik kincir angin bisa mengobati patah hatiku,” cengir laki-laki itu.

“Arigato…”

Suasana menjadi hening setelah Junnosuke pergi. Takeru berjalan menghampiri gadis itu. Kisa memang cantik dengan rambut pendeknya, tapi Takeru jadi penasaran. Bagaimana gadis itu dengan rambut panjangnya. Tanpa sadar, jemarinya terulur menyentuh helai rambut pendek itu.

“E-eh… Gomenasai,” ucap Takeru saat menyadari apa yang sudah dilakukannya.

“Satoh kun…”

“H-hai?”

“Sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini sejak kemarin.”

“Nanika?”

“Okaerinasai… (selamat datang kembali) Terima kasih untuk tetap hidup.”

Ada sesuatu yang membuat hati Takeru menjadi hangat saat gadis itu tersenyum padanya. Lagi tangannya terulur menyentuh helai rambut pendek gadis itu, “Gomenasai… rambutmu menjadi sependek ini, Dan terima kasih untuk segala-galanya meskipun aku tidak bisa mengingatnya.”

“Daijoubu… Kita bisa membuat kenangan itu lagi. Aku bisa memanjangkan rambutku lagi, bersamamu. Kau bisa melihatnya dari waktu ke waktu.” ucap Kisa sambil tersenyum lembut.

“Sakura…”

“Eh?”

“Kau seperti bunga sakura saat tersenyum.”

“Hontou? Dulu kau mengatakan aku seperti salju saat rambutku masih panjang.”

Takeru tersenyum, “Hishano san… Boleh aku memelukmu?”

Gadis itu sedikit terkejut mendengar permintaan laki-laki itu. Kakinya melangkah maju lalu memeluk pinggang laki-laki itu yang dibalas dengan dekapan hangat.

Air mata Kisa jatuh dari kelopak matanya, “Bisa mendengar detak jantungmu seperti ini aku benar-benar bersyukur. Terima kasih sudah kembali, Takeru-kun.”

“Arigato, kisa…”

Seberapa lama memori otak mampu menampung ingatan manusia? Lambat laun, ingatan itu akan memudar dan terlupa. Namun, rasa bahagia, rasa sedih, rasa sayang, rasa cinta selamanya tidak akan pernah pergi. Karena rasa ada di dalam hati dan tidak perlu untuk diingat. Namun cukup untuk dirasakan.

OWARI