Tags

,

our days

Jangan menghitung berapa lama waktu yang kuhabiskan bersama mereka, tapi hitung berapa lama waktu yang kuhabiskan bersamamu dan yang akan kuhabiskan bersamamu…

———————-

“Oh, Yoon ah!!” laki-laki itu melambaikan tangannya riang dengan senyum di bibirnya.

Cho Kyuhyun. Kekasihnya itu sekarang sedang berjalan cepat menghampirinya. Mungkin saja Kim Yoon Hye akan membalas lambaian dan senyuman itu jika saja tidak ada seorang gadis yang ada di sisi laki-laki itu. Hingga laki-laki itu berdiri di depannya-pun ia masih belum bisa membalas senyuman itu.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Kyuhyun masih tersenyum padanya.

“Kau tidak bekerja?” Yoon Hye balas bertanya.

“Ah, tadi aku baru saja menemui klien. Ternyata yang menjadi sekretarisnya itu Kang Hee Seul ssi, teman sekolahku dulu. Jadi kami memutuskan untuk makan siang bersama.”

Gadis itu terdiam. Jika seperti ini, apa dia boleh marah? Laki-laki itu mengatakannya dengan riang dan jujur. Membuat Yoon Hye tidak bisa berbuat apa-apa. Apa ia berlebihan kalau mengatakan tidak suka kekasihnya bersama gadis lain?

Ini bukan yang pertama kalinya. Sudah sering ia melihat laki-laki itu bersama gadis lain. tapi Yoon Hye tidak bisa berbuat apapun karena ia tau laki-laki itu tidak ada hubungan khusus dengan mereka. Dia hanya terlalu baik. Dia tidak bisa menolak permintaan gadis-gadis itu. Tapi… Terkadang sikapnya yang terlalu baik seperti itu, membuat hubungan keduanya menjadi hambar.

“Yoon ah! Yoon ah!! Yaa, kenapa kau melamun?”

Yoon Hye tersentak lalu mengerjap kaget, “Ne?”

Laki-laki itu tersenyum kecil, “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aniya… Aku hanya lewat, ada yang harus kubeli di supermarket.”

“Ah begitu…”

“Kyuhyun ah… Miss Han baru saja mengirim text menyuruh kita kembali ke ruang meeting. Ada yang ingin dia tanyakan lagi,” kata Kang Hee Seul tiba-tiba.

“Jja… Aku harus kembali sekarang. Hati-hati dan jangan lewatkan makan siangmu! Sampai jumpa nanti,” satu pelukan singkat Kyuhyun berikan untuk gadis itu sebelum ia melangkah pergi.

Ini aneh. Karena pelukan itu sama sekali tidak terasa. Masih menatap punggung laki-laki yang berjalan menjauh bersama gadis itu, Kim Yoon Hye mencengkeram erat tas yang dibawanya. Tas yang berisi kotak makan siang untuk kekasihnya. Pada akhirnya, hasil masakannya itu lagi-lagi sampai di tangan Ajhuma penjaga toko bunga di dekat perusahaan tempat laki-laki itu bekerja.

*****

‘Mianhae… Hanya sehari. Nanti kita bertemu di café biasanya jam empat sore, eothe?’

Gadis itu tercenung. Sambungan telephon itu masih terhubung tapi hanya ada suara hening.

‘Yoon ah…?’

“Araseo…” gumam gadis itu pelan.

‘Gomawo… Aku mencintaimu!’

Ponsel itu masih tertempel di telinga Yoon Hye meskipun panggilan itu sudah terputus. Gadis itu berpikir tapi tidak tau apa yang harus dipikirnya.

‘Lee In Jung. Dia mantan kekasihku. Dia sedang sakit sekarang dan ingin menghabiskan waktu sehari bersamaku. Mungkin ini akan jadi yang terakhir untuknya. Dia ingin pergi ke sekolah lama kami. Tidak apa-apa kan?’

Kata-kata yang diucapkan kekasihnya beberapa menit yang lalu. Apa yang bisa dilakukannya? Haruskah ia menjadi egois untuk tidak mengijinkan kekasihnya bersama gadis lain? Mungkin ini terakhir kalinya untuk gadis itu tapi bukan untuknya. Nanti, Yoon Hye tidak tau berapa banyak lagi hal seperti ini akan datang.
.
.
Gerimis… Hari yang benar-benar suram untuk yoon hye. Gadis itu melirik ponselnya yang menujukkan pukul empat lebih dua menit namun mocca late yang dipesannya sudah tinggal setengah. Gadis itu mendesah pelan sambil menatap keluar dari dinding kaca café. Tidak lama kemudian, manic matanya menatap sosok yang sedang ditunggunya sedang berlari kecil menuju café.

Greeep…

Mata Yoon Hye membulat, tanpa sadar gadis itu beranjak dari duduknya. Ia terpaku menatap kekasihnya yang tiba-tiba dipeluk seorang gadis dari belakang. Dan lebih terpaku lagi saat melihat gadis itu membalik tubuh kekasihnya lalu mencium bibirnya.

Air mata Yoon Hye jatuh begitu saja. tubuhnya terasa menggigil hingga terasa sakit. Gadis itu tidak ingin melihatnya lagi. Dengan perasaan kacau, ia menyambar tasnya diatas meja lalu melangkah pergi. Mungkin sebaiknya ia lewat pintu belakang café agar tidak mengganggu scene romantis kekasihnya itu.

*****

Bel apartement itu berbunyi berkali-kali sebelum gadis itu membukanya. Ia terdiam saat menyadari siapa yang berdiri di depan apartementnya.

“Aku tidak boleh masuk? Ini sangat dingin…” kata laki-laki itu sambil memeluk tubuhnya sendiri. rambutnya terlihat setengah basah. Sepertinya dia baru saja menerobos hujan.

Yoon Hye membukakan pintu lebih lebar untuk membiarkan laki-laki itu masuk.

“Aku menunggumu di café, tapi kau tidak datang. Jadi aku kemari,” jelas Kyuhyun sambil mengganti sepatunya dengan sandal rumah sementara gadis itu berjalan menuju pantry. “Aku takut terjadi sesuatu padamu, kau baik-baik saja? apa kau sakit?”

Gerakan Yoon Hye untuk mengambil gelas terhenti. Ia ingin berteriak frustasi mendengar pertanyaan itu. Bagaimana bisa__ astaga… Siapa yang tidak sakit saat kekasihnya meminta waktu untuk gadis lain?

“Appo… Neomu appo…” jawab gadis itu sambil menahan rasa nyeri di dadanya.

“Jeongmal? Kau sudah minum obat? Apa perlu ke dokter?”

“Ani… Dokter tidak akan bisa mengobatinya.”

“Mwo?”

“Kyuhyun ah…” gadis itu membalik tubuhnya, menatap laki-laki yang sedang berdiri di hadapannya dengan raut wajah lelah yang sangat ketara, “Ayo kita putus…”

“Mwo?”

“Kau tidak pernah mengerti…”

Laki-laki itu hanya diam. Memang ia tidak mengerti. Ia tidak mengerti kenapa gadis itu meminta putus.

“Kau terlalu baik. Kau tidak pernah menolak permintaan mereka. Setiap ada gadis yang datang kau selalu menerima mereka. Kau tertawa bersama mereka, makan bersama mereka, berpelukan… Bahkan berciuman_”

“Kau melihatku tadi?” potong Kyuhyun cepat, “Kau menungguku di sana?”

“Aku menyesal sudah menunggumu…” jawab Yoon Hye dengan suara bergetar.

“Dia yang menciumku. Aku juga terkejut, Yoon ah…”

“Karena itu aku tidak bisa marah padamu!!” seru Yoon Hye. “Aku tau itu bukan salahmu. Tapi melihatnya tetap saja membuatku sakit. Aku tau kau tidak ada hubungan apa-apa dengan mereka. Tapi memikirkannya juga membuatku sakit. Lalu aku harus bagaimana? Aku merasa tidak ada bedanya antara aku dan mereka. Kau baik pada mereka, sama seperti kau baik terhadapku. Lalu aku harus bagaimana?” tanpa sadar pipi gadis itu sudah basah.

“Bukan aku, tapi kau…” jawab Kyuhyun pelan.

Gadis itu tidak menjawab. Ia tidak mengerti apa maksud laki-laki itu.

“Kau yang terlalu baik,” lanjut Kyuhyun, “Aku tidak tau apakah kau benar-benar membutuhkanku atau tidak. Setiap aku bersama mereka kau tidak pernah menampakkan emosi. Kau selalu bilang tidak apa-apa. Aku ingin melihatmu cemburu padaku, menunjukkan bahwa aku benar-benar milikmu.”

“Aku tidak ingin menjadi egois!!” seru gadis itu.

Bibir Kyuhyun tersenyum. Dengan langkah cepat ia menghampiri gadis itu lalu meraihnya ke dalam dekapan, “Marahlah kalau kau punya kesempatan sekecil apapun untuk marah. Teriaklah tidak kalau kau tidak suka aku melakukannya. Jangan seperti air tenang yang tiba-tiba menenggelamkan seperti ini. Tidak melakukan apapun tapi meminta putus tiba-tiba. Kau membuat jantungku hampir berhenti.”

“Aku tidak suka… Aku tidak suka melihatmu bersama mereka…” gumam Yoon Hye dengan nada merajuk, masih dalam dekapan laki-laki itu.

“Jangan menghitung berapa lama waktu yang kuhabiskan bersama mereka, tapi hitung berapa lama waktu yang kuhabiskan bersamamu dan yang akan kuhabiskan bersamamu. Sejak 1327 hari sejak kau menjadi milikku ditambah hari-hari esok yang akan kita lalui bersama. Aku tetap akan selalu mencintaimu…”

****

Ini hari minggu yang cerah. Matahari bersinar, memberi kehangatan di musim gugur yang segera berakhir ini. Gadis itu terlihat sedang berjalan menuju taman kota. Kyuhyun sudah berjanji padanya untuk menghabiskan waktu bersama hari ini.

Mata gadis itu menyipit saat melihat kyuhyun sedang berbicara dengan seorang gadis di pinggir taman itu. Cepat-cepat ia melangkah menuju tempat itu.

“Oh, Yoon ah!!” panggil laki-laki itu dengan nada lega.

Yoon Hye tersenyum sopan, menyapa gadis itu. “Apa ada masalah?” tanyanya.

“Park Hyo Ra imnida. aku teman kuliah Cho Kyuhyun ssi dulu,” saut gadis itu, “Karena dia bekerja di perusahaan design, aku ingin dia melihat restaurant sushi-ku yang baru buka. Mungkin dia punya saran yang bagus untuk interiornya.”

“Kyuhyun ah, kau__” kata-kata gadis itu terputus saat menatap Kyuhyun. Laki-laki itu tengah menyipitkan matanya, seolah memberi peringatan pada gadis itu. Bibir Yoon Hye tersenyum tipis, “Jeoseonghamnida… Tapi kami harus pergi ke rumah sakit hari ini. Kami sudah ada janji dengan dokter untuk mengecek kandungan.”

“Ah… Jeongmalyo? Aku tidak tau kalau Cho Kyuhyun sudah menikah. Jeoseonghamnida… Kalau sempat kalian boleh mampir ke tempatku. Ini alamatnya,” gadis itu mengulurkan sebuah kartu nama yang segera di terima oleh Yoon Hye, “Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa…”

Kedua orang itu membalas salam park hyo ra sebelum ia pergi. Untuk sesaat suasana benar-benar terasa sunyi.

“Kandungan eh?”

Yoon Hye tertawa, “Aku tidak sempat memikirkan alasan lain…”

“Karena aku orang yang baik, calon istriku harus menjadi jahat agar kekasihnya ini tidak dibawa orang lain,” goda Kyuhyun.

“Kau yang membuatku jadi orang jahat!”

“Lain kali akan kubuat alasanmu tadi menjadi nyata.”

“Mwo?”

“Jja, aku sudah lapar!”

“YAA Cho Kyuhyun! Dasar mesum!!” teriak Yoon Hye saat laki-laki itu berjalan santai meninggalkannya. Bibir gadis itu tersenyum. mungkin hari-hari mereka yang akan datang menjadi lebih seru dari hari ini.

FIN