Tags

, ,

whos your name

‘Jangan jatuh cinta kepadaku. Kau akan terluka. Jadi biar aku saja yang mencintaimu.’

==================

Seberapa besar memori otak manusia dapat menyimpan kenangan masa lalu? Dari semua hal yang membuatku bingung, kejadian saat itu membuatku ingin melupakannya. Namun… Sekaligus ingin kuingat seumur hidup. Rasanya seperti sedang melangkah di dalam air yang mengalir. Merasakan arusnya membuat otak berfikir. Apakah harus mengikuti arus, atau melawannya. Itu yang kurasakan saat aku pertama kali melihat tatapan tajamnya. Tatapan yang menyelamatkanku dari kerapuhan. Musim dingin bulan Desember tanggal enam tahun 2011. Hari saat pertama kali aku bertemu dengannya. Eunhyuk.

“Lepaskan!! Lepaskan aku!!”

“Melepaskanmu? Agar kau bisa menelepon polisi? Apa kau bercanda?”

Aku ketakutan. Saat itu aku berharap tidak pernah melihatnya yang sedang dipukuli oleh orang-orang itu. Tapi ketakutanku membuatku tidak bisa bergerak dan terus menatapnya. Mereka berjalan menghampiriku, mencengkal tanganku. Membuatku tersentak dan menyadari bahwa saat itu aku berada dalam bahaya.

“Kenapa yeoja cantik sepertimu berkeliaran malam-malam begini?”

Salah satu dari mereka berlima, laki-laki bertato itu memegang daguku dengan kasar. Bibirnya menyeringai. Aku ingin berteriak dan menangis, tapi semua saraf ditubuhku terasa membeku.

“Apa yang akan kalian lakukan? Lepaskan aku!!!”

Aku memberontak. Menggerakkan anggota tubuhku sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Tiba-tiba saja punggungku menghantam dinding keras itu. laki-laki bertato itu mendorongku dengan keras. Kedua tanganku dicengkeram erat oleh teman-temannya. Aku merasakan lelehan air mata di pipiku.

Bunyi sobekan itu masih membekas dalam ingatanku. Aku menjerit, berteriak dan terus memberontak saat tangan-tangan kotor itu menyentuhku. Wajah kedua orang tuaku seolah muncul dalam pandanganku. Aku hanya ingin pergi ke supermarket untuk membeli soju yang appa pinta. Aku hanya ingin pergi sebentar. Tapi aku merasa mati saat merasakan sentuhan mereka. Saat pikiranku kosong tiba-tiba saja aku terlepas.

Kedua kakiku lemas hingga tubuhku jatuh ke tanah. Namun aku masih bisa melihatnya. Laki-laki yang tadi dipukuli itu sekarang menghajar mereka. Dia terus menyerang dan memukul hingga orang-orang itu tergeletak penuh luka. Dia berjalan mendekatiku yang bersandar pada dinding. Aku melihatnya. Tatapan tajam itu. Wajahnya penuh luka namun sinar matanya begitu menusuk. Dia melepaskan jaketnya lalu memakaikannya padaku. Membuat bajuku yang terkoyak tertutupi.

Tanpa bicara dia mengangkat tubuhku. Menggendongku lalu berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Aku merasakannya. Sunyi yang bertabur butiran salju yang turun malam itu. Dingin. Tanpa sadar bibirku bergerak. Mengucapkan satu kalimat tanya.

“Siapa namamu?”

“Eunhyuk. Aku Eunhyuk…”

Nama orang yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya. Aku bertanya-tanya. Kenapa aku harus bertemu dengannya disaat seperti ini? Aku ingin melupakan hari itu, tapi aku ingin mengingatnya. Hari dimana aku menyerahkan hatiku kepadanya.

****

“Yoon ah… Sekali saja kau harus ikut kencan buta. Aku sudah berjanji akan mengajakmu. Kau akan datang kan? Sekali saja, eoh? “

Lee Rae Ki. Teman akrabku itu tampak seperti anak kecil saat sedang merengek. Aku hanya tertawa kecil melihatnya. Meskipun sudah tau jawabanku akan sama seperti sebelumnya, dia tidak pernah menyerah.

“Rae Ki ya… Neo ara_”

“Ara! Arayo! Jeongmal arayo! Kau selalu bilang tidak suka ikut hal-hal seperti itu. Tapi kencan buta kali ini sangat penting. Kau tau Lee Donghae bukan? Aku sudah menyukainya sejak lama. Park Jung Soo sudah berjanji akan mengajaknya kalau aku juga membawamu. Lagipula kenapa kau tidak mencoba pacaran dengan Park Jung Soo? Dia sangat baik dan sudah lama mengejarmu. Apa mungkin… kau masih menunggunya? Aigoo… Apa kau ingin menjadi perawan tua hingga mati?”

Aku tau dia mencemaskanku. Aku juga tau dia berusaha menjodohkanku dengan teman-temannya. Tapi aku tetap tidak bisa. Dia hanya belum memahami bahwa setiap detik waktuku sudah terenggut oleh laki-laki itu. Tidak ada nama laki-laki yang kuingat selain namanya. Memang sudah lama sekali. Sudah empat tahun berlalu dan aku belum bertemu lagi dengan laki-laki itu.

Dimana dia sekarang? Apa yang dilakukannya? Apa dia masih berada di Daechon? Ada banyak pertanyaan yang belum kutemukan jawabannya. Dan setiap hari pertanyaan itu selalu bertambah. Aku tidak ingin meninggalkan Daechon, kota dimana kami bertemu. Tapi aku tidak bisa melepas kesempatan untuk bisa masuk ke Seoul University. Setiap hari permintaanku kepada Tuhan selalu sama. Aku ingin bertemu lagi dengannya. Eunhyuk.

“Yoon ah, jebbaaal… Sekali ini saja. Kau hanya perlu duduk diam di sana.”

“Hanya kali ini, oke?”

“Jeongmal? Kau akan ikut? Kyaaa… Gomawoooo…”

Aku tidak tau keputusanku untuk ikut itu adalah takdir atau bukan. Namun lagi-lagi aku menemukan kejadian yang ingin kulupakan sekaligus ingin kuingat.
.
.
.
Musim dingin, bulan Januari, tanggal dua puluh satu, tahun 2015. Aku melihat salju turun dari kaca jendela café. Tanpa sadar tanganku menggenggam sebuah liontin yang selama ini kupakai. Liontin yang tertinggal di saku jaketnya empat tahun lalu. Liontin yang memberiku kekuatan saat aku merasa takut. Sudah kukatakan bahwa setiap detik waktuku terenggut olehnya. Mau tidak mau pikiranku akan selalu bergerak sendiri pada sosok itu.

Aku keluar dari café, meninggalkan Lee Raeki bersama Park Jung Soo dan teman-temannya. Udara dingin langsung membelai wajahku saat aku keluar dari bangunan itu. Aku mengangkat wajah, menatap langit hitam yang penuh dengan taburan salju. Kakiku bergerak perlahan, melangkah menelusuri jalan yang tertimbun serpihan es. Menghitung berapa lama waktu yang telah kuhabiskan untuk menunggunya.

Senggolan pelan dibahuku, menyadarkanku. Senyum seringai itu membuat tubuhku terpental ke masa lalu. Kakiku bergerak mundur. Mataku terpaku pada sosok yang baru saja tidak sengaja kutabrak. Darahku berdesir cepat, memperingatkanku. Tapi semua anggota tubuhku membeku.

“Aigoo… Yeppeunde… Agashi, apa kau mau menemani Ajhusi?”

Bau alkhohol itu begitu menyengat. Menusuk penciumanku. Tanpa sadar aku menggigil. Tanganku mencengkeram erat kalung liontin yang kupakai. Pria itu menyeringai. Pandangan matanya tidak focus karena mabuk.

“Jangan sentuh aku!!”

Saat tangan pria itu terulur, aku ingin berteriak dengan keras namun suara yang keluar malah terdengar seperti putus asa. Memang, aku memang sedang putus asa. Bagaimana kalau kejadian itu terulang lagi dan dia tidak ada di sini? Siapa yang akan menyelamatkanku?

“Haiish… Tidak perlu malu begitu. Nanti akan ajhusi berikan apapun yang kau mau, eoh? Kajja!”

“Andwae!!”

Seperti tersentak, aku menarik tanganku. Berusaha melepaskan diri dari cekalannya. Tanpa sadar air mataku meleleh. Dia menarikku tapi tubuhku bergerak sebaliknya hingga pria itu melepaskan cekalannya. Tubuhku terhuyung ke belakang hingga melewati area jalan raya.

TIIIIIIIIIIIIIIINNNNN

Suara itu menggema dalam ruang dengarku. Aku menatap cahaya menyilaukan itu dari balik kabut lapisan cair di mataku. Aku merasa kosong. Sama seperti waktu itu. Sedetik kemudian sesuatu menghantamku.

Aku jatuh dalam kegelapan. Tubuhku gemetar. Dimana aku? Ketakutan itu merayap perlahan. Pikiranku ingin menjerit. Kemudian aku mendengar suaranya. Samar kemudian semakin jelas.

“Yaa Kim Yoon Hye!! Palli irona!! Yaa!!”

Tubuhku terguncang. Aku tersentak saat sebuah cahaya menerpaku. Samar aku melihat wajahnya. Tatapan itu… Tatapan yang kucari selama ini.

“Eunhyuk…” bisikku pelan.

Dia mendesah lega lalu memelukku erat. “Dasar bodoh! Kau letakkan dimana otakmu eoh?”

Apa aku bermimpi? Karena ini terlalu aneh untuk menjadi nyata. Dia melepaskan pelukannya. Kami saling bertatapan. Tanganku terulur menyentuh wajahnya. Merasakan kulitnya. Aku bisa melihat pantulan diriku dari manik hitam matanya. Tanpa sadar air mataku meleleh. Jika ini memang mimpi, aku tidak ingin cepat terbangun.

“Kau tidak sedang bermimpi sekarang! Dan cepat bangun. Apa kau ingin jadi tontonan?”

Mataku mengerjap pelan. Aku menatap sekeliling dan baru menyadari bahwa kami masih ada di tengah jalan saat ini.

“Agashi kau baik-baik saja?”

Pria berpakaian jas itu bertanya dengan tatapan khawatir. Mungkin dia pemilik mobil yang hampir menabrakku. Aku mencari sosok ajhusi tadi tapi tidak ada. Sepertinya dia kabur karena takut.

“Saya baik-baik saja. Jeoseonghamnida…”

“Cih merepotkan saja!”

Dia beranjak lalu berjalan pergi. Tidak aku tidak ingin kehilangan jejaknya lagi. Sontak tubuhku beranjak lalu membungkuk pada pria berpakaian jas itu dan cepat-cepat berlari menyusulnya.

Salju masih melayang-layang ringan di udara. Tubuhku terasa membeku tapi hatiku menghangat. Dia menyelamatkanku. Lagi. Aku ingin berterima kasih tapi aku tidak tau harus memulai darimana. Aku mengikuti langkah kakinya. Setapak demi setapak. Tiba-tiba dia berhenti, membuatku ikut berhenti melangkah. Tubuhnya berbalik lalu menatapku tajam.

“Kenapa kau mengikutiku?”

“Aku…”

Aku tidak tau… Aku tidak tau kenapa aku mengikutinya. Aku hanya tidak ingin dia menghilang lagi. Tiba-tiba saja dia sudah berdiri di hadapanku.

“Apa kau mengingatku? Kau pernah menolongku empat tahun yang lalu.”

“Yaa, kau pikir kenapa aku berada di Seoul? Apa kau berfikir pertemuan ini adalah kebetulan? Tidak. Aku selalu ada di sini. Di belakangmu. Aku selalu melihatmu. Sejak dulu.”

Kata-kata yang diucapkannya entah kenapa seperti selimut hangat yang ada di tempat tidurku. Yang dapat membungkusku saat aku merasa kedinginan.

“Lalu kenapa kau tidak menemuiku?”

Aku menatapnya tapi dia hanya diam. Ada sesuatu dalam tatapan itu dan aku ingin menggalinya. Saat ujung jemarinya menyentuh kulit pipiku, kedinginan itu menjalar. Berdesir dibawah permukaan kulitku.

“Jangan jatuh cinta kepadaku. Kau akan terluka. Jadi biar aku saja yang mencintaimu.”

Tiba-tiba saja aku ingin menangis. Tatapan tajamnya berubah. Ia tersenyum namun aku melihat ada luka dibalik pandangannya.

“Kenapa?”

“Karena aku bukan orang. Aku hanya kepribadian yang hidup dalam tubuh orang ini.”

Aku terdiam. Kalimat itu tertahan dalam pikiranku. Mungkin orang lain akan langsung tertawa saat mendengarnya dan menganggap dia gila. Tapi bibirku terlalu kaku bahkan untuk membalas kalimatnya. Aku terkejut melihat air mata itu jatuh dari kelopak matanya. Tanpa berfikir aku merengkuhnya dalam pelukanku.

“Terlambat… Kau sudah merebut hatiku.”

Dia membalas pelukanku. Terasa hangat namun entah kenapa air mataku terus mengalir. Aku tidak mengerti dan masih belum memahami maksudnya. Tapi aku tidak ingin menyerah. Apa dia berbohong atau tidak, setidaknya untuk saat ini aku ingin mendengar detak jantungnya yang seirama dengan milikku.

*****

DID (Dissociative Identitiy Disorder). Kelainan mental berupa kepribadian ganda didefinisikan sebagai kelainan mental di mana seseorang yang mengidapnya akan menunjukkan adanya dua atau lebih kepribadian yang masing-masing memiliki nama dan karakter yang berbeda. Aku sudah mencarinya di internet dan membaca berbagai artikel tentang penyakit itu. Namun yang terjadi padaku apa benar hal itu?

“Yaa, kenapa sejak tadi kau melamun?”

Aku tersentak mendengar teguran dari Lee Rae Ki. Bibirku tersenyum tidak yakin. Sejak malam kencan buta itu, lee rae ki selalu mengajakku makan di cafeteria belakang kampus karena pengunjungnya sebagian besar anak jurusan dance dan music. Dan Lee Donghae adalah salah satunya.

“Kau masih belum bercerita padaku kenapa kau menghilang tiba-tiba malam itu. Apa kau baik-baik saja?”

Aku mengangguk pelan lalu meraih cangkir mocca late milikku. Menyesapnya pelan. Manis. Pada akhirnya aku kembali kehilangan laki-laki itu. Kenapa aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang ingin kutanyakan saat bersamanya?

‘Jangan mencariku, aku yang akan datang padamu.’

Atas alasan apa aku percaya pada kata-katanya? Kenapa suaranya seperti hipnotis yang mampu menyihirku. Aku tidak tau seperti apa dia, tapi kenapa aku percaya?

“Oh, Yoon ah! Itu Lee Donghae!!”

Jeritan kecil Rae Ki membuatku tersentak dan menoleh pada laki-laki itu. Tubuhku membeku. Dia ada di sana, duduk disebelah laki-laki bernama Lee Donghae. Tanpa sadar tubuhku beranjak. Aku mendengar Rae ki yang bertanya apa aku baik-baik saja. Tapi pertanyaan itu seolah terhapus oleh fokusku. Kakiku melangkah. Aku merasa begitu lambat, namun dalam hitungan detik aku sudah berdiri di depannya.

Tawanya terhenti saat menyadari kehadiranku. Kedua laki-laki itu menatapku. Aku mendengar Lee Donghae yang menyebutkan namaku. Tapi mataku, hanya tertuju kepadanya. Kepada tatapan itu. Tidak… Bukan tatapan itu. Bukan tatapan itu yang dimilikinya. Aku mulai takut.

“Si-siapa… namamu?”

Laki-laki itu menatapku bingung. Dia menoleh pada Lee Donghae sejenak sebelum membuka bibir untuk menjawab pertanyaanku.

“Lee Hyuk Jae imnida.”

Ketika nama itu terucap dari bibirnya, aku merasa kosong. Seolah semua kenangan tentangnya lenyap tergantikan gelap. Dan saat itu juga aku sadar apa yang dikatakan olehnya benar.

Air mataku jatuh begitu saja. Kedua laki-laki itu menatapku bingung. tapi aku tidak bisa menahannya. Sosok yang selama ini kucintai ternyata memang tak beraga. Menyadari bahwa suatu saat dia bisa saja menghilang. Meskipun dia hanya bayangan. Meskipun orang menganggapnya berbahaya. Meskipun dia tak punya raga, namun dia ada. Dan aku tidak pernah menyesalinya. Fakta bahwa aku jatuh cinta kepadanya. Kepada Eunhyuk, sosok yang hidup di dalam tubuh Lee Hyuk Jae. Yang suatu saat bisa menghilang. Dan mungkin hanya aku satu-satunya orang yang menyadarinya dan merasa kehilangan.

‘Jangan jatuh cinta kepadaku. Kau akan terluka. Jadi biar aku saja yang mencintaimu.’

Sekarang aku mengerti apa maksud kalimat itu. Meskipun begitu, sudah terlambat. Hatiku sudah menjadi miliknya sejak aku pertama kali menatap matanya. Tatapan mata yang hanya dimiliki oleh Eunhyuk.

 

To be continue…

Oke, Fanfic ini memang dibuat setelah saya tergila-gila sama Shin Se Gi di drama Kill Me Heal Me. Entah kenapa saya lebih suka dia daripada si pemilik tubuh kkkk… Ini Alter Ego versi Vea. Semoga suka ^^