Tags

, , ,

whos your name

 

“Yoon ah… Jika suatu saat aku menghilang, apa kau akan menungguku?”

———————-

Sejak saat itu tanpa sadar mataku selalu mengikuti sosoknya. Bahkan lebih dari yang dilakukan Lee Rae Ki kepada Lee Donghae. Setiap melihatnya aku selalu berfikir, apakah dia Eunhyuk atau masih Lee Hyuk Jae. Aku ingin tau lebih banyak tentangnya. Tentang sosok itu. Kenapa dia tercipta.

“Cogiyo…”

Mataku mengerjap pelan mendengar suara itu. Tanpa kusadari dia sudah ada di hadapanku. Duduk sambil menggenggam sekaleng soda.

“Sejak tadi kau terus menatapku.”

Ah… Aku tergelagap mendengar kalimat penyataan itu. Tapi mungkin ini waktu yang tepat untuk bertanya padanya.

“Apa mungkin… Kau mengenalnya?”

Suara yang meluncur dari bibirku terdengar pelan dan ragu. Apa reaksi yang akan diberikan oleh orang dihadapanku ini, aku tidak tau. Aku takut sekaligus penasaran.

“Nuguseo?”

“Eunhyuk…”

Aku melihatnya tersentak. Untuk beberapa detik yang berlalu kami hanya saling menatap.

“Bagaimana kau tau_”

“Aku bertemu dengannya.”

Raut wajah terkejut itu perlahan berubah menjadi wajah ketakutan.

“Apa yang dia lakukan kepadamu? Kau baik-baik saja? Tidak ada hal buruk yang terjadi? Kapan kau bertemu dengannya?”

Aku terdiam mendengar pertanyaan yang beruntun itu. Kenapa Lee Hyuk Jae terlihat begitu takut?

“Apa dia berbahaya?”

“Dia sangat berbahaya.”

“Kenapa dia tercipta?”

Laki-laki itu terdiam sejenak. Mungkin antara ingin bercerita atau tidak. Aku tidak memaksanya tapi aku ingin tau.

“Kau tidak akan mengatakannya pada orang lain?”

“Ne.”

“Dia muncul saat aku berumur delapan tahun. Uri appa meninggal saat aku masih bayi jadi eomma menikah lagi dengan seorang pria. Awalnya keluarga kami baik-baik saja. Tapi… Perlahan pria itu mulai berubah. Dia menjadi sering mabuk dan suka memukul eomma. Aku tidak berdaya saat itu tapi aku tidak bisa membiarkan pria itu menyakiti eomma. Saat itulah dia muncul. Eunhyuk. Dia mengambil alih diriku dan membalas perbuatan pria itu. Eunhyuk hampir membunuhnya. Jika eomma tidak berteriak memanggilku, mungkin aku sekarang sudah menjadi pembunuh.”

“Tapi dia menyelamatkan kalian…”

“Aku tau. Tetap saja, dia berbahaya. Eunhyuk tidak bisa mengontrol emosinya. Dia kasar dan suka melewati batas. Setiap kali aku melihat kekerasan, dia akan muncul. Mengambil alih diriku. Tidak sedikit masalah yang ditimbulkannya. Karena dia juga aku sering menjadi sasaran anak-anak berandal yang pernah berurusan dengannya.”

Aku tercenung mendengarnya. Sekarang aku mulai mengerti. Eunhyuk adalah potongan dari rasa takut Lee Hyuk Jae. Rasa itu menciptakan dirinya yang lebih kuat.

“Kalau kau bertemu lagi dengannya sebaiknya kau lari. Menghindarlah sebisa mungkin. Dan aku juga tidak akan menemuimu.”

Bibirku tidak mampu bergerak. Aku ingin mengatakan bahwa aku mencintainya. Sosok yang dianggap berbahaya itu. Tapi pikiranku tertahan. Apakah memberitahunya adalah pilihan yang terbaik? ‘Dia’ memintaku untuk menunggu dan itu membuatku frustasi.

“Kalau begitu aku pergi dulu.”

Tanpa menunggu jawabanku, Lee Hyuk Jae beranjak dari duduknya lalu melangkah pergi. Dadaku terasa sesak saat melihat punggungnya yang semakin menjauh. Bukan dia orang yang kucintai tapi kenapa rasanya ‘Dia’ akan ikut pergi meninggalkanku? Aku hanya bisa menunggu dan percaya. Ini aneh. Mempertaruhkan hatiku pada waktu yang entah kapan dia bisa datang. Mungkin aku memang bodoh…

*****

Jam digital di atas meja belajarku menunjukkan pukul sebelas malam. Aku menghela nafas pelan sambil menatap keluar dari jendela kamar. Menatap butiran salju putih yang melayang memenuhi udara. Sudah seminggu lebih sejak pertemuanku dengan Lee Hyuk Jae. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Kadang aku merasa begitu jahat karena mengharapkan ‘Dia’ akan hidup terus.

Bel pintu flatku berbunyi. Aku terdiam. Antara ragu dan takut. Siapa yang datang tengah malam begini? Tubuhku tersentak. Apa mungkin dia? Tanpa berfikir lagi aku melangkah cepat menuju pintu lalu membukanya. Tubuhku mematung. Dia menatapku.

“Apa kau bodoh? Membuka pintu tanpa bertanya lebih du_”

Aku menangis setelah menabrak tubuhnya. Memeluk erat sebelum kalimatnya selesai. Baru kali ini aku merasa begitu lega. Seakan batu yang menghimpit hatiku telah diangkat. Dan saat itu juga aku ingin waktu berhenti berdetak. Aku ingin menyimpannya dalam rengkuhanku selamanya.

“Yoon ah… Appo…”

Aku melepaskan pelukanku padanya lalu mengusap air mataku dengan cepat. Rasa lega itu berubah menjadi rasa khawatir. Kenapa tubuhnya penuh luka?

“Bisa kau membantuku lebih dulu?”

Tanpa menjawab kutarik lengannya untuk masuk ke dalam flat. Dia duduk di lantai sambil membuka jaketnya sementara aku mengambil kotak obat di laci nachkast.

“Kau berkelahi?” tanyaku sambil menarik lengannya yang terluka. Seperti terkena sayatan pisau.

“Aku tidak bisa menahannya.”

“Ini bukan tubuhmu, jangan memakainya sesuka hati.”

“Dia akan mati kalau aku diam saja.”

Aku menatapnya. Dia memalingkan wajah seolah merajuk. Pelan-pelan kubasuh lukanya dengan air bersih lalu memberinya obat.

“Bagaimana kau tau tempat tinggalku?”

“Sudah kubilang, aku selalu disisimu. Sejak dulu.”

Gerakan tanganku berhenti. Aku mengangkat wajah menatap matanya yang tajam.

“Lalu… Kenapa kau baru datang sekarang? Kenapa tidak menemuiku lagi setelah kau menolongku empat tahun yang lalu? Kau bilang kau mencintaiku.”

Aku meneruskan gerakanku memberi obat lalu membalut lukanya dengan perban sementara menunggu jawabannya. Kenapa dia hanya diam? Membuatku merasa gelisah.

“Aku takut…”

Gerakan tanganku terhenti lagi. Kali ini aku tetap menunduk, tanpa menatapnya.

“Aku takut kau akan jatuh cinta kepadaku.”

Hening. Kami sama-sama terdiam. Untuk sesaat aku tidak tau harus berbuat apa. Aku tau kenapa dia takut. Sama ketika aku merasa takut dia menghilang lagi.

“Lalu kenapa sekarang kau berubah pikiran?”

“Aku tidak bisa menahannya. Kalau saja kau hidup lebih berhati-hati aku mungkin tidak akan menolongmu saat itu. Jadi kau tidak harus bertemu denganku.”

“Berhentilah berkelahi!” pintaku mengalihkan pembicaraan, “kau bisa membuatnya menjadi pembunuh.”

“Aku tidak bisa berjanji untuk menghajar orang yang tidak sengaja menyenggolku saat aku bosan. Karena si lemah ini tidak bisa berbuat apapun saat melihat kekerasan jadi aku yang mengambil alih.”

“Bagaimana kalau kencan denganku?”

“Mwo?”

“Aku memberimu kesempatan untuk kencan denganku kalau kau bisa mengatasi masalah tanpa berkelahi.”

Dia terdiam menatapku. Ah… Tatapan tajam itu. Aku begitu menyukainya. Tanpa sadar, jemariku terulur menyentuh kulit wajahnya. Aku seolah bisa mendengar detak jantungku sendiri saat itu. Setiap mata kami bertemu, jantungku seperti diluar kendali.

“Berkelahi atau tidak berkelahi, kita tetap akan kencan di pertemuan berikutnya.”

“Yaa, itu tidak adil!” gerutuku.

“Bukan kau yang harus memutuskan!” tandasnya.

Aku tersenyum. Sepertinya aku mulai memahaminya. Dia bukanlah orang yang bisa dipaksa. Dia juga kasar dan berbahaya. Tapi aku tau dia baik. Dan mungkin hanya aku yang melihat kebaikan itu di saat semua orang menganggapnya monster. Termasuk orang yang menciptakannya. Lee Hyuk Jae.

“Kemarikan wajahmu, biar kuberi obat.”

Meskipun tidak abadi, aku ingin merasakan kebahagiaan ini dengannya. Meskipun nanti hanya aku yang mengingatnya, aku ingin menyimpan saat-saat aku bersamanya. Saat dia menatapku dengan tatapan itu. Saat jantungku mulai menggila karenanya. Aku ingin memilikinya. Kenangan itu…

*****

Dia lebih sering muncul dari yang kukira. Dan setiap kali Lee Hyuk Jae terbangun, aku segera pergi. Rasanya begitu aneh. Aku menghabiskan waktu dengan sosok itu sementara pemilik tubuh tidak tau. Lee Hyuk Jae masih tetap menghindariku. Kami tidak pernah bertemu lagi di kampus.

Aku menikmatinya, kenangan yang kubuat dengannya. Hingga hari itu tiba. Hari yang tak pernah kuinginkan dalam hidupku. Meskipun tau hari itu akan tiba, tapi tetap saja aku tidak bisa menerimanya dan menjadikanku manusia egois.

“Kau sudah selesai?”

Nada suaranya masih sama. Dingin dengan tatapan mata yang tajam. Aku masih terkejut beberapa saat melihatnya membawa sepeda motor. Menjemputku di kampus waktu sore hari. Tangannya mengulurkan sebuah helm.

“Ayo pergi!”

Aku menuruti permintaannya tanpa banyak bicara. Menerima helm itu lalu memakainya. Motor yang dikemudikannya melesat cepat menelusuri jalan raya. Saat itu aku merasa takut. Takut akan sesuatu yang tidak kuketahui. Aku memeluk erat tubuhnya seolah dia akan pergi. Kupejamkan mataku, merasakan hadirnya.

Kami berhenti di taman bermain. Dia melepas helm yang dipakainya lalu turun dari motor. Aku mengikutinya. Dia menggenggam erat tanganku.

“Hari ini aku mengabulkan permintaanmu. Berkencan di taman bermain.”

Aku menatapnya terkejut. Dia tidak suka berada di keramaian. Selama ini kami hanya sekedar berjalan-jalan saat malam hari atau duduk di taman yang sepi. Aku pernah memintannya untuk berkencan di taman bermain. Kencan yang sesunguhnya. Tapi dia selalu menolak.

“Kenapa tiba-tiba…”

“Kalau kau protes aku akan mengajakmu pulang!”

“Ani! Aku menyukainya. Ayo kita menghabiskan waktu di sini!”

Kami melakukan banyak hal. Makan permen kapas, mencoba berbagai permainan dan dia lebih banyak tertawa. Namun… semakin banyak tawanya yang keluar, semakin banyak pula rasa takutku. Aku takut akan kehilangan semua itu.

“Kalung itu…”

Matanya menatap kalung liontin yang kupakai. Kalung yang tertinggal di saku jaketnya empat tahun lalu.

“Milikmu… Boleh aku memakainya?”

Tiba-tiba saja dia menarik kalung itu hingga terlepas dari leherku. Aku tersentak, terkejut oleh tindakannya.

“Ini milik Lee Hyuk Jae. Pemberian eommanya.”

Dia menarik tanganku sebelum aku menjawab kata-katanya. Aku ingin membuka mulut tapi masih bingung. Laki-laki itu berhenti di depan stand aksesoris. Meraih satu kalung lalu memakaikannya padaku. Kalung berbandul liontin salju. Dia menatapku memakai kalung itu. Dari sinar matanya aku bisa merasakan dia suka aku memakainya.

Bruuuk…

“Yaa! Apa kau memakai mata ayam? Kau tidak lihat ada manusia di sini eoh?”

Aku menahan lengannya. Mencoba mencegahnya menghajar seseorang yang tidak sengaja menabraknya baru saja. Sikapnya yang seperti itu, mengingatkanku bahwa dia liar. Berbahaya. Tapi lagi-lagi setiap aku menatap matanya, tidak ada hal lain lagi yang bisa kurasakan.

“Ayo kita naik Biang Lala!”

Aku menariknya pergi. Dia sedikit tidak setuju dengan ideku. Tapi aku tidak perduli. Meskipun dengan menggerutu, dia menuruti permintaanku. Kami duduk berhadapan dalam keranjang gantung itu. Pemandangan yang terlihat dari puncak sangat indah karena malam sudah tiba. Kerlap-kerlip lampu memenuhi kota.

“Waeyo?”

Aku bertanya kepadanya karena dia terus menatapku. Dibandingkan melihat pemandangan, dia lebih memilih untuk menatapku. Jemarinya terulur, menyentuh pipiku. Terasa dingin namun hangat dibawah permukaan kulitku.

“Yoon ah… Jika suatu saat aku menghilang, apa kau akan menungguku?”

Aku terdiam oleh pertanyaannya yang tiba-tiba. Ketakutanku menjadi semakin besar.

“Aku akan menunggu.”

Dia menyentil keningku hingga aku mengaduh. Bibirnya tersenyum namun tidak dengan matanya.

“Dasar bodoh! Bagaimana bisa kau menunggu orang yang bahkan sebenarnya tidak ada? Aku tidak ingin kau menunggu.”

Aku mengambil sebuah uang koin dari dalam saku jaket yang kupakai. Menggenggamnya di balik punggung lalu mengulurkan tanganku yang terkepal padanya.

“Bukan aku yang memutuskan. Tapi kau. Kalau kau memilih koin, aku akan menuruti permintaanmu. Kalau tidak, aku akan mengikuti hatiku. Pilihlah!”

Dia menatapku sesaat. Jemarinya terulur menggenggam salah satu kepalan tanganku. Perlahan menarik jari-jariku agar terbuka. Dan koin itu tidak ada disana. Kosong.

Aku tersenyum padanya, “Aku akan tetap menunggumu. Kau ada. Kau bukan hanya sosok yang setiap saat bisa menghilang. Aku berjanji, aku akan menemukanmu kembali. Percayalah padaku.”

Dia meraih wajahku. Menangkup kedua pipiku dengan tangan besarnya. Perlahan mendekat, membuatku memejamkan mata. Hingga aku merasakannya. Bibirnya menekan lembut bibirku. Jantungku seperti berhenti. Aku merasakan pipinya yang basah. Membuatku mengucap satu permohonan dalam hati.

‘Tuhan… Biarkan dia untuk terus hidup…’

****

Tiga belas hari berlalu setelah kencan kami dan menghitung hari menjadi hobi baruku. Aku bertanya-tanya kenapa dia tidak pernah keluar lagi. mungkin lee hyuk jae lebih berhati-hati mengontrol emosinya sekarang. Namun baik eunhyuk ataupun Lee Hyuk Jae, aku belum melihatnya lagi. Ada perasaan sesak setiap kali aku memikirkannya. Aku teringat oleh film-film fantasy yang terkenal. Seperti mencintai sosok yang berwujud hantu, vampire, dan semacamnya. Apakah penulis benar-benar tau seperti apa rasanya? Setiap detik yang berlalu serasa mencekik karena berisi harapan-harapan yang tak berwujud.

“Kau lebih sering melamun akhir-akhir ini.”

Suara itu membuatku menoleh pada pemiliknya. Perhatianku terpusat pada sesuatu yang dibawa Lee Rae Ki. Sebuah keranjang penuh dengan buah-buahan.

“Untuk apa itu?”

“Ah ini… Lee Donghae mengajakku untuk menjenguk temannya yang sakit. Kasihan sekali, dia sudah mencapai tahap akhir untuk tumor otaknya dan harus segera di operasi. Jika operasinya berhasil pun dia akan kehilangan ingatan. Aku berencana untuk mengajakmu juga. Kau tau Lee Hyuk Jae bukan?”
SRRAAAK

Tubuhku berdiri secara tiba-tiba membuat kursi yang kutempati berderit keras. Lagi aku merasa kosong. Eunhyuk, lee hyuk jae, dan tumor otak. Tiga kata itu berputar dalam kepalaku. Suara lee rae ki yang memanggilku terasa samar. Mungkin saat itu pertama kalinya aku melakukan hal tanpa berfikir. Mengabaikan ujian yang sebentar lagi di mulai, kakiku berlari pergi. Dulu aku berfikir bahwa hidupku adalah yang terpenting. Tapi sekarang, aku menyadarinya. Entah sejak kapan hidupku menjadi milik laki-laki itu.

Nafasku terasa habis. Kakiku seperti mati rasa. Cuaca begitu dingin dan aku meninggalkan tas serta jaketku di cafeteria. Bahkan aku tidak bertanya di rumah sakit mana lee hyuk jae dirawat. Tentu saja, sebagian orang mengakuinya bahwa cinta itu bodoh. sekarang aku baru mengerti apa maksudnya.

Aku berhasil sampai di rumah sakit yang dimaksud setelah kepalaku hampir dipenuhi salju yang sedang turun hari itu. Saat aku mencari orang itu, aku melihatnya berdiri di lorong rumah sakit. Di belakang sebuah jendela kaca besar sedang menatap keluar. Kakiku terasa kaku saat aku berjalan menghampirinya. Lidahku terasa kelu bahkan hanya untuk memanggilnya.

Dia terkejut saat menyadari kehadiranku. Tubuh kami mematung dan dia menatapku. Air mataku menggenang. Maaf karena bukan tatapan itu yang kuharapkan. Maaf karena bukan kau orang yang kuinginkan.

“Na… Geu saram joahaeyo… Eothokeyo?” [Aku… Aku menyukai orang itu, apa yang harus kulakukan?]

Air mataku jatuh setelah mengucapkan kalimat itu. Aku ingin menahannya tapi tidak berhasil. Didepannya, aku menangis terisak. Apa yang harus kulakukan? Semakin banyak pertanyaan yang bermunculan di otakku.

Jika ingatan itu terhapus, apakah dia akan menghilang?

*****

“Aku tidak tau kalau hubungan kalian sedekat itu.”

“Mianhaeyo… kalau aku menginginkannya dia tetap ada.”

“Itu tidak mungkin… Jika operasi ini berhasil, ingatanku akan terhapus. Itu artinya, traumaku juga akan terhapus. Dia tidak mungkin akan kembali.”

Aku menahan rasa sesak dan air mata yang ingin keluar. Aku berharap salju diluar sana bisa membekukanku.

“Aku… Aku hanya tidak menyangka bahwa saat itu adalah pertemuan terakhir kami. Sekali saja, bisakah aku melihatnya lagi? apa kau bisa memanggilnya keluar? Aku berjanji hanya sebentar. Sepuluh menit_ tidak, lima menit saja.”

Aku memohon dengan putus asa dan aku tau itu tidak mungkin. Namun, aku tidak ingin menyerah hingga akhir.

“Mianhaeyo, itu tidak mungkin Kim Yoon Hye ssi. Jika dia muncul, dia mungkin tidak akan mau kembali dan menggagalkan operasi ini. Aku tidak bisa mengendalikannya kalau sudah kehilangan kesadaran. Karena itu, akhir-akhir ini aku selalu menjaga emosiku. Operasi dilakukan dua hari lagi. sampai saat itu, dia tidak boleh muncul. Aku bisa melihat bahwa kau sangat mencintainya, tapi apa kau yakin dia juga mencintaimu? Dia berbahaya Kim Yoon Hye ssi.”

“Aku percaya padanya… Karena itu, aku bahkan meminta hal yang tidak mungkin darimu.”

“Maafkan aku… Aku tidak bisa membantumu karena dari awal, dia seharusnya tidak ada.”

Air mataku jatuh. Aku mengusapnya dengan cepat. Aku tau… sangat tau hal itu. Orang yang kucintai hanya bayangan. Namun dia memiliki eksistensi di hatiku. Aku tau hal ini juga akan terjadi. Saat dimana dia harus menghilang. Tetapi tetap saja aku tidak siap menghadapinya.

“Aku harus kembali ke kamar sekarang.”

Tanganku sontak menahannya yang akan beranjak dari duduknya. Aku memegang kedua sisi wajahnya sambil memejamkan mataku.

“Sebentar saja…”

Jika aku melihatnya, tatapan itu akan berbeda. Jadi aku menutup mataku, mencari tatapan itu dalam imaginasiku. Aku merasakan hangat kulitnya di dinginnya musim dingin. Tapi aku tidak bisa… Aku tidak bisa menemukan tatapan itu dalam kepalaku. Hanya dia yang memilikinya. Tatapan yang dapat merebutku.

Aku melepaskannya lalu berlari pergi. Dadaku terasa sesak. Ini menyakitkan. Kugenggam liontin bentuk salju pada kalung pemberiannya dan melepas rasa sakit itu lewat butiran air mataku yang jatuh. Aku tanpanya, kosong…

****

“Siapa namamu…?”

“Cogiyo agashi… Kau sudah menanyakan namaku lebih dari tiga kali. Apa kau punya penyakit lemah hingatan?”

Aku menatapnya yang balas menatapku dengan pandangan menyelidik. Aku tau dia akan menganggapku aneh. Tetapi setiap bertemu dengannya, aku tidak bisa menahan diriku untuk bertanya.

Eunhyuk. Aku selalu berharap dia menjawab dengan nama itu. Aku tau itu tidak mungkin. Sejak Lee Hyuk Jae operasi sebulan yang lalu, orang yang berharga dalam hidupku lenyap. Meninggalkan satu potongan masa lalu yang terus kusimpan.

Rasa sesak itu selalu menyergapku. Bagaimana aku bisa membuang tentangnya sementara raganya selalu terlihat dimataku? Aku tau itu bukan dia. Tapi kenapa aku tidak ingin menyerah? Seperti setiap aku bertemu dengannya.

‘Siapa namamu?’

Kalimat itu akan selalu dan selalu terucap dari bibirku tanpa sadar.

“Kalau kau tidak ada urusan denganku, aku akan pergi.”

Dia berbalik, melangkah menjauh sementara aku masih berdiri di tempatku. Air mataku turun. Ah… Aku sering menangis akhir-akhir ini. Kupikir air mataku sudah habis, tetapi setiap rasa nyeri itu datang, air mataku akan keluar lagi.

Aku membalikkan tubuh, mengambil langkah yang berlawanan dengannya. Kuusap mataku sambil menunduk. Setidaknya orang lain tidak melihat rasa gila yang mulai menggerogoti otakku.

Bruuuk…

“Yaa! Apa kau memakai mata ayam? Kau tidak lihat ada manusia di sini eoh?”

Tubuhku membeku. System sarafku rasanya terhenti. Kalimat itu… Seperti menghantamku. Menarikku pada satu kejadian yang lalu. Perlahan, aku mencoba menggerakkan kepalaku. Menengadah untuk menatapnya.

Tatapan itu…

Aku menemukannya.

Laki-laki itu lebih tinggi dari Lee Hyuk Jae. Tapi ia memiliki selera fashion yang sama dengannya. Juga beberapa tindik di telinga.

“Cih, merepotkan saja!”

Aku tersentak saat melihatnya berjalan pergi. Tanpa sadar, kakiku melangkah mengikutinya.

“Kenapa kau mengikutiku?”

Wajahnya terlihat kesal saat itu. Tapi tatapan itu, aku mengenalnya. Amat sangat mengenalnya. Hingga membuat lidahku kelu untuk mengeluarkan kata-kata. Pada akhirnya, air mataku berjatuhan tanpa bisa kucegah.

“Y-Yaa… Waegeure? Orang-orang sedang melihat kita, tenangkan dirimu!”

Melihat wajah paniknya membuatku ingin tertawa. Aku merindukan ekspresi itu. Meskipun dengan wajah dan raga berbeda, tapi aku tau dia adalah Eunhyuk-ku.

Aku berhenti menangis sambil mengusap air mataku. Kuambil sebuah kerikil kecil lalu kuulurkan kedua tanganku yang terkepal padanya. Menyuruhnya untuk memilih. Dia menatapku bingung lalu mengulurkan tangannya ragu. Disentuhnya salah satu kepalan tanganku.

Kosong. Kerikil itu tidak ada di sana. Tentu saja, dia adalah pemilih yang buruk.

Bibirku tersenyum. Hatiku tiba-tiba saja merasa hangat.

“Terima kasih sudah kembali. Siapa namamu?”

“C-Cho Kyuhyun…”

“Cho Kyuhyun ssi, aku sudah memutuskan. Aku akan mencintaimu.”

“Mwo??”

 

 

FIN