Tags

,

Ai No Uta [Song of Love]

song of love

Kau bisa terbang tinggi tanpaku
Namun bersamamu aku bukan apa-apa…

 —————————–

Gadis itu menekan saklar, membuat ruangan menjadi terang. Apartementnya masih terlihat sama seperti terakhir kali ia pergi. Semuanya terlihat bersih karena ada ajhuma yang beberapa hari sekali datang ke tempatnya seperti yang diperintahkan oleh managernya. Dengan langkah pelan, ia menarik koper warna biru tua itu menuju kamarnya. Satu-satunya tempat yang tidak dibiarkannya orang lain masuk. Tidak untuk ajhuma atau bahkan managernya. Gadis itu selalu mengunci kamarnya ketika ia pergi.

Ruangan itu tampak gelap sebelum jemarinya menekan saklar di sebelah pintu. Tidak ada yang berubah pada kamarnya. Hanya saja terlihat berdebu. Mungkin setelah ini ia terpaksa harus bersih-bersih dulu. Apa boleh buat, ia tidak ingin orang lain tau apa yang sudah disimpannya rapat-rapat hingga kini. Kamarnya sudah seperti hatinya sendiri.

Kim Yoon Hye, gadis itu melepaskan pegangan pada kopernya lalu melangkah pelan menuju sebuah dinding yang penuh dengan berbagai macam foto. Semua foto kenangan yang dianggapnya berarti ada di sana. Foto keluarganya, foto teman-temannya. Juga fotonya. Foto laki-laki yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.

“Seharusnya aku membencimu…” gumamnya lirih sambil menatap salah satu foto, “tapi aku tetap tidak bisa membuangmu.”

Membiarkan perasaannya terhanyut ke dalam masa lalu, gadis itu tanpa sadar melamun. Seharusnya ia tidak boleh seperti ini. setiap ia kembali ke masa lalu, sakit itu akan terasa nyata. Tapi hatinya tidak mampu menahan. Pikirannya selalu bergerak tanpa bisa dicegahnya.

Melodi itu mengalun indah. Begitu indah hingga membuat seorang Kim Yoon Hye yang sedang berlari mengejar waktu karena terlambat mendadak menghentikan langkahnya. Gadis itu terdiam, melupakan fakta bahwa beberapa menit yang lalu gerbang sekolahnya sudah ditutup. Ia melihat laki-laki itu dari belakang. Duduk di sebuah bangku di pinggir taman bermain sambil memetik sebuah gitar berwarna hitam.

Yoon Hye memejamkan matanya. Meresap melodi itu. Ia belum pernah mendengar nada seperti ini sebelumnya. Ada harapan dan permohonan didalamnya. Bahkan sakit itu seperti terasa nyata. Kalau bisa, nada itu harusnya dikeluarkan dalam bentuk teriakan. Tapi nyatanya tidak bisa. Membuat alunannya berubah menjadi rasa frustasi.

Beberapa detik setelah melodi itu berhenti, gadis itu membuka matanya. Saat itulah mata mereka bertemu untuk yang pertama kalinya. Laki-laki itu menatapnya tanpa bersuara.

“Eng… Mianhae, aku tidak sengaja mendengarnya.” tanpa alasan yang jelas, gadis itu merasa gugup. Tangannya mencengkeram erat-erat tas gitar yang dibawanya.

“Bukankah ini sudah lewat jam masuk sekolah?”

Untuk pertama kalinya Yoon Hye mendengar suara itu. Nada rendah yang terasa kuat. Ia ingin menyimpan suara itu dalam ingatannya, membuatnya terlihat seperti orang yang kebingungan.

“Tidak apa-apa kalau kau terlambat?”

Gadis itu tersentak. Wajahnya seketika menjadi panic. Tubuhnya bergerak ingin berlari pergi tapi masih ada yang harus dikatakannya. Karena mereka menggunakan seragam yang berbeda, tentu saja sekolah mereka pasti tidak sama. Yoon Hye takut ia tidak akan bisa bertanya padanya lagi. Laki-laki itu tertawa melihatnya bergerak tidak jelas dan setengah melompat-lompat frustasi karena kebingungan.

“Apa yang ingin kau lakukan?”

“Haish eothoke??” tanya gadis itu putus asa, “aku harus cepat pergi tapi masih ada yang ingin kukatakan padamu!”

Laki-laki itu tertawa lagi, “Kalau begitu membolos saja.”

Yoon Hye menimang sejenak. Saat ini pelajaran sejarah tengah berlangsung hingga istirahat nanti. Sepertinya bukan masalah besar kalau ia melewatkan pelajaran itu sekali saja. Lagipula siapa yang perduli hanbok pertama kali dibuat oleh siapa.

“Apa kau juga membolos?”

“Begitulah.”

“Wae? Terlambat juga?”

“Aku tidak sepertimu. Membolos itu perlu untuk setiap anak laki-laki!”

“Heol!” Yoon Hye mendengus pelan, “siapa namamu?”

“Cho Kyuhyun. Neo?”

“Yoon Hye. Kim Yoon Hye.”

Dering ponsel itu membuyarkan lamunannya. Gadis itu merogoh saku jaket panjang warna coklat muda yang masih dipakainya, mengeluarkan benda yang menjerit minta diangkat itu.

“Yeoboseo?”

“Oh Yoon ah, kau sudah tiba di Korea?”

“Ne, baru saja aku sampai di apartement.”

“Araseo. Aku akan menata ulang jadwalmu besok. Sementara beberapa hari ini mungkin kau free. Tapi tetaplah datang ke studio untuk berlatih. Album barumu memang masih beberapa bulan lagi, tapi kau harus tetap mempersiapkannya.”

“Ne, araseo yo, Hyung-nim. Gomawo.”

Yoon Hye menutup ponselnya lalu melepas jaket. Mengalihkan pandangan dari hal yang bisa menariknya ke masa lalu. Ada banyak hal yang harus dilakukannya setelah pulang dari Jepang. Termasuk membersihkan debu di kamarnya malam ini.

*****

Angin musim semi bertiup lembut. Bunga-bunga Maehwa sedang bermekaran disepanjang jalan saat ini. Menggugurkan helaian kelopak dari bunganya. Yoon Hye merasakan hal yang sama. Musim semi di Jepang ataupun di Korea, semuanya sama. Sama-sama mengingatkannya akan hari itu. Hari-hari yang pernah mereka lalui bersama.

Gadis itu berhenti di pinggir sebuah taman. Menatap pada bangku kayu yang saat ini kosong. Melodi itu seperti mengalun ditelingannya. Pertemuan pertama mereka, juga pertemuan-pertemuan selanjutnya.

Only with my heart, I will want you
Only with my heart, I will kiss you
Don’t be sorry, this is my life
Whether you love me or feel sorry, I feel the same way

[only with my heart-park jung hyun-heirs soundtrack]

Petikan gitar itu berhenti mengalun mengiringi suara merdu yang baru saja bernyanyi. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di sisi bangku yang kosong sambil meraih botol air lalu meneguknya.

“Haah… Memang latihan bernyanyi di luar ruangan berbeda dengan di dalam. Gomawo sudah membantuku berlatih.”

“Kau akan ikut audisi?” tanya laki-laki itu sesekali memetik gitarnya.

“Ani. Ini untuk acara sekolah bulan depan. Mereka selalu memintaku bernyanyi pada acara-acara festifal.”

“Suaramu memang bagus.”

“Tetap saja, aku ingin menyanyikan laguku sendiri suatu saat nanti.”

“Kesempatan itu pasti datang. Kau berbakat.”

“Bagaimana denganmu? Kau suka bermain music. Apa kau juga akan menjadi penyanyi? Atau membentuk band saja denganku.”

Laki-laki itu tertawa kecil, “Tidak semua orang yang hobbi memainkan alat music bisa menjadi artis ataupun penyanyi. Aku melakukannya karena aku suka. Bukan berarti aku berbakat.”

Yoon Hye mencebil, “Kenapa kau jadi pesimis seperti ini eoh? Siapa tau kau bisa terkenal suatu saat nanti. Atau mungkin saja kita bisa berada di panggung yang sama.”

“Yoon ah…”

“Waeyo?”

“Itu botol minumku.”

Mata gadis itu mengerjap pelan. Ia menatap botol itu dan Kyuhyun bergantian. Tiba-tiba saja wajahnya terasa panas. Dia minum dari botol air Kyuhyun. Apa itu artinya mereka ciuman secara tidak langsung? Dengan gugup gadis itu mengembalikan botol air itu, “Mi-mianhae.”
.
.
“Kyuhyun ah!! Neo ara? Ternyata saat event kemarin ada alumni kami yang datang. Dia bekerja di agency SMent dan menawariku untuk ikut audisi. Eothokeh?”

Cho Kyuhyun tersenyum melihat gadis itu dengan wajah abstraknya. Kadang merasa takut, sedetik kemudian berubah menjadi panic lalu berubah lagi menjadi senang.

“Ke-kenapa kau menatapku seperti itu?”

“Kim Yoon Hye. Apa kau mau menjadi pacarku?”

“M-mwo?”

“Kupikir aku tidak akan pernah bosan jika melihatmu. Kau lucu.”

“A-apa-apaan itu… Jangan bercanda!”

“Kemarikan tanganmu!”

“Tangan?”

Laki-laki itu menarik tangan kiri Yoon Hye lalu menggambar sebuah symbol dengan sepidol hitam pada pergelangan lengan gadis itu.

“Yaa, apa yang kau lakukan?”

“Jimat untukmu ikut audisi. Jangan sampai terhapus. Aku tidak mau menggambarnya lagi.”

Yoon Hye berdecak pelan, “Apa itu akan berhasil?”

“Kalau kau lulus, kau harus jadi pacarku!”

“M-mwo?”

“Kalau kau menolak jimat-nya tidak akan berfungsi.”

“Yaa, mana bisa begitu!”

Meskipun tidak mengatakan secara langsung. Kyuhyun bisa melihat rona merah di pipi gadis itu. Gadisnya, mulai kini.

Desiran sebuah mobil yang baru saja lewat membuyarkan lamunan gadis itu. Tanpa sadar, jemarinya mengusap tempat symbol itu pernah berada. Ia mengalihkan pandangannya lalu melanjutkan langkah menuju sekolahnya dulu. Yoon Hye tau, gambar itu sudah hilang. Namun kenangannya akan selalu membekas.

Bangunan itu tampak legang. Tentu saja, saat ini jam pelajaran tengah berlangsung. Setelah menemui beberapa guru yang dulu sudah membantu mewujudkan mimpinya, sekarang gadis itu pergi menuju sebuah ruangan. Ruang musik kecil tempatnya berlatih bersama teman-temannya dulu. Juga aula, tempatnya tampil di hadapan teman-temannya. Bibirnya tersenyum tipis, merasa bersalah pada teman-temannya dulu.

Saat ia lulus audisi dan menjadi traine, orang pertama yang ia beritahu adalah laki-laki itu. Bukan teman-temannya. sekarang Yoon Hye sadar. Sejak saat itu mungkin yang mengambil alih dunianya adalah laki-laki itu.

“Jadi seperti ini kamar namja?” gadis itu melihat sekeliling ruangan yang tidak terlalu besar itu. “kau tinggal sendiri?”

“Appa bekerja di luar kota dan eomma baru nanti sore pulang dari toko.” sahut Kyuhyun sambil mengambil gitar hitamnya lalu duduk di tepi ranjang.

“Kau menulis lirik?” tanya Yoon Hye sambil menatap tempelan berbagai kertas di dinding atas meja belajar.

“Aku hanya iseng melakukannya.” Jawabnya lalu memetik beberapa nada dari gitarnya.

“Kau bisa membuat lagu…”

Laki-laki itu mengangguk sambil tersenyum, “Hadiah untukmu yang sudah lulus audisi. Chukae…” ucapnya sambil memainkan sebuah lagu dengan gitarnya.

Yoon Hye bertepuk tangan setelah lagu itu berhenti, “Kau berbakat membuat lagu. Lagu yang kau mainkan saat kita pertama kali bertemu, apa itu juga buatanmu?”

Kyuhyun mengagguk pelan.

“Aku merasa lagu yang kau mainkan begitu hidup. Apa kau sedang patah hati saat itu?” tanya gadis itu sambil duduk di kursi belajar Kyuhyun.

“Bagaimana kau tau?”

“Jadi itu benar?”

Kyuhyun mengangguk pelan. “Tapi sekarang tidak lagi.”

“Waeyo?”

“Karena kau sudah ada disisiku saat ini.”

Lagi-lagi wajah gadis itu terasa panas, “Aku penasaran. Siapa orang itu? Yang bisa membuatmu melantunkan melodi yang begitu hidup.

“Dia guruku. Usianya dua puluh delapan tahun. Mengajar pelajaran bahasa inggris. Dan dia sudah tunangan.”

Yoon Hye terdiam. Ia tidak tau harus menanggapi bagaimana. Awalnya ia ingin tau, tapi apakah baik-baik saja membicarakan hal ini?

“Kau menyukainya?”

“Dia yang membuatku sadar bahwa aku mencintai music. Saat itu aku merasa bahwa aku membutuhkannya. Ketika tau dia sudah bertunangan, aku marah. Karena itu aku sering bolos sekolah. Tapi… Sejak bertemu denganmu, aku tidak punya lagi alasan untuk membolos.”

“Jeongmal?”

“Saat mendengarmu bernyanyi, aku tidak bisa mendengar detak jantungku sendiri. Seolah hanya ada satu suara yang ingin kudengar. Aku beruntung bertemu denganmu.”

“Aniya… Aku yang beruntung. Karenamu aku bisa lulus audisi. Gomawo.”

“Hanya itu?” Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya. “Hanya ucapan gomawo?”

“Lalu?”

“Bagaimana kalau ini?” tangan kyuhyun meraih kedua sisi kursi belajar itu lalu menariknya agar mendekat padanya.

Gadis itu memekik saat kursi yang didudukinya meluncur ketika ditarik Kyuhyun. Belum sempat rasa terkejutnya hilang, bibir Kyuhyun membungkamnya. Laki-laki itu menciumnya. Meskipun hanya sepersekian detik. Nyatanya hal itu bisa membuat jantung keduanya berdebar keras.

*****

Gedung itu sedikit berubah. Sepertinya bertambah tinggi sejak terakhir kali Yoon Hye pergi ke Jepang. Gadis itu masuk lewat pintu belakang dan menghindari wartawan sebisa mungkin. Ia langsung menuju lantai empat tempat studionya berada.

“Oh, Yoon ah… Neo waseo? Onje?” sambut seorang wanita cantik dengan rambut merah gelapnya.

“Baru kemarin aku tiba di Korea, unnie. Ini, untukmu. Oleh-oleh dari Jepang.”

“Aigoo… gomawo. Apa kau ada jadwal? Kim Young Woon belum kemari hari ini.”

“Hyung-nim bilang aku masih bebas tapi tetap harus berlatih.”

“Bagaimana rasanya tinggal di Jepang? Kudengar debutmu di sana sukses, karena itu kau tidak bisa kembali ke Korea.”

“Ne… Sebenarnya aku sudah mulai terbiasa tinggal di sana. Tapi tetap saja makanan Korea yang terbaik. Kita harus makan siang sama-sama nanti.”

“Tentu…” wanita itu menarik sebuah kursi, “jja, duduklah. Dengarkan lagu ini.”

Yoon Hye menuruti permintaan wanita itu. Ia memasang headphone di telingannya saat wanita itu mulai mengatur alat-alat rekaman di depannya.

“Lagu ini…”

“Lagu comeback solo Henry bulan depan. Bagus sekali bukan? Lagu ini dibuat oleh Cho Kyuhyun.”

“Cho Kyuhyun…”

“Ne. penulis lagu terkenal itu. Beberapa saat lalu kami membujuknya agar membuatkan sebuah lagu. Kami berencana menjadikan lagu itu untuk album barumu. Tapi dia menolak.”

“Apa dia tau lagu itu untukku?”

“Tentu saja tidak. Kami harus menyimpan informasi itu rapat-rapat agar tidak beredar rumor. Tapi memang Cho Kyuhyun itu aneh. Dia menolak kerja sama dengan agency manapun sebagai penulis lagu tetap. Dan lagu-lagu yang dibuatnya hanya untuk grub boyband atau penyanyi solo namja. Dia tidak mau membuat lagu untuk yeoja. Sayang sekali, padahal setiap lagu buatannya pasti akan menjadi hit.”

Gadis itu termenung. Perasaan sesak itu tiba-tiba saja datang. Lagi-lagi ingatannya sudah terlempar ke masa lalu.

“Lagu buatanmu sangat bagus… Boleh kunyanyikan?”

“Aku membuatnya memang untukmu.”

“Kenapa kau tidak mencoba mengirimkan lagumu ke agency? Mungkin saja kau bisa bekerja dengan mereka dan membuat lagu-lagu yang bagus.”

“Aku akan mencobanya.”

“Saat mereka mendengar aku menyanyikannya, pasti mereka menyukainya. Jadi sesekali aku harus pura-pura bernyanyi saat berada di dekat mereka. Eothe?”

Kyuhyun tertawa kecil, “Mereka akan menganggapmu aneh.”

“Gwenchana, yang penting suaraku bagus.” gadis itu ikut tertawa.

.
.

Hari itu mendung. Sepertinya akan hujan. Memberikan suasana sejuk pada kota Seoul. Kim Yoon Hye berlari dengan cepat. Kyuhyun baru saja mengiriminya pesan untuk bertemu. Ia yakin sudah tampil dengan baik saat di panggung kelulusan tadi. Ia juga ingin mengabarkan kalau dirinya akan debut tahun depan.

“Kyuhyun ah… Kau sudah menunggu lama?” tanyanya dengan nafas naik turun.

Laki-laki itu tersenyum. Tapi tidak dengan matanya. Yoon Hye bisa merasakan perbedaan itu.

“Setelah lulus sekolah aku akan menjadi trainee. Mereka bilang tahun depan aku sudah bisa debut sebagai penyanyi.”

“Aku tau.”

Gadis itu terdiam. Ada yang salah disini. Laki-laki itu tidak seperti biasanya.

“Yoon ah… Mianhae. Tapi ayo kita putus.”

Butuh waktu beberapa detik untuk Yoon Hye dapat memperoses kata-kata itu.

“Wae… Waeyo…?”

“Aku tidak pernah menyukaimu.” Jawab Kyuhyun tanpa menatapnya, “aku hanya memanfaatkanmu.”

“Apa maksudmu?”

“Aku mendekatimu karena aku tau kau bisa masuk ke agency. Jadi aku menggunakanmu untuk berbicara dengan mereka. Agar mereka mendengarkan laguku dan menjadikanku sebagai pembuat lagu.”

“Gotjimal…” kata Yoon Hye lirih.

“Terserah kau percaya atau tidak. Setelah ini sebaiknya kita tidak perlu bertemu lagi. Anyeong.”

Gadis itu membeku. Bahkan untuk menangis, ia terlalu bingung. Pada akhirnya Yoon Hye hanya mematung ditempatnya. Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan. Begitu ia sadar, Cho Kyuhyun sudah pergi.

“Yoon ah, waegeure? Kenapa kau menagis?”

Gadis itu tersentak. Ia menghapus air matanya dengan cepat lalu melepas headphone. “Aku…”

Wanita itu tersenyum, “Lagu Cho Kyuhyun hebat bukan? Tidak jarang ada yang ingin menangis saat mendengarkannya. Tapi baru kali ini aku melihat ada yang benar-benar menangis.”

Yoon Hye tersenyum tipis. Biar saja dia mengira seperti itu, “Rae Ki unnie, aku pergi ke belakang dulu.”

“Nee…”
.
.
Gadis itu terisak. Ia berharap tidak ada yang datang ke toilet saat ini. ia tau laki-laki itu menjadi penulis lagu terkenal sekarang. Saat muncul di konferensi pers EXO, dia datang sebagai penulis lagu untuk single utama album mereka. Dan Yoon Hye juga selalu mendengar setiap lagu yang telah dibuat oleh laki-laki itu meskipun selama dua tahun ia tinggal di Jepang.

Setelah kesuksesan album pertamanya dulu, gadis itu kemudian pergi ke Jepang untuk debut di sana juga. sejak hari itu hingga kini, ia belum pernah bertemu dengan laki-laki itu lagi. Laki-laki yang sudah membawa sebagian hatinya. Lalu menghancurkannya berkeping-keping.

Tapi pada akhirnya, Yoon Hye tidak bisa membuang laki-laki itu dari kehidupannya. Karena semua mimpinya dimulai pada titik itu. Titik disaat mata mereka bertemu.

*****

Ruangan itu sebenarnya besar. Tapi tetap saja, sebesar apapun ruangan jika digunakan untuk segala hal akan terlihat sempit. Ada sebuah ranjang disana. Dibagian kiri ada pantry kecil dan sebuah kamar mandi. Selain lemari pakaian, ada tiga buah rak yang berisi buku-buku dan kepingan kaset CD. Sementara yang menghabiskan sebagian besar tempat dalam ruangan itu adalah satu set peralatan audio beserta tiga layar computer, sebuah keyboard dan beberapa gitar yang bersandar di dinding. Hanya ada satu sofa dan satu meja dalam ruangan itu.

“Kapan kau akan pindah ke tempat yang lebih baik? Kau ini penulis lagu terkenal dan banyak uang. Kau bahkan bisa menggajiku. Tapi tempat tinggalmu jauh lebih parah dari tempatku.” gerutu Park Jung Soo yang baru saja meletakkan sekantong plastic berisi beberapa kaleng bir di atas meja. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa itu sambil membuka salah satu kaleng bir, “apa ide lagu yang kau buat itu berasal dari tempat kumuh ini?”

Laki-laki lainnya yang sedang duduk di kursi kerja sambil memetik senar gitar sesekali melihat layar computer di depannya terlihat tidak acuh.

“Kau tau artis terkenal Park Shin Hye? Pihak agency memberitahuku kalau dia akan menyanyikan lagu solo_”

“Aku tidak membuat lagu untuk gadis. Kuharap kau tidak lupa itu, Jung Soo Hyung.” potong namja itu.

“Yaa, tapi dia artis yang populer untuk saat ini. Kalau dia menyanyikan lagumu, kau akan kebanjiran job dan ikut menjadi terkenal, Kyuhyun ah.”

“Cukup dengan ulahmu membuatku tampil di conferensi pers EXO. Kalau kau melakukannya lagi, untuk selanjutnya aku tidak butuh manager.”

“Ayolah, bukankah itu bagus. Seluruh Korea tau bagaimana wajah tampanmu sekarang. Kau bahkan sama populernya dengan actor Kim Woo Bin.”

“Lakukan sekali lagi dan kau tau akibatnya.”

“Baiklah-baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Tapi pertimbangkan lagi untuk Park Shin Hye.”

“Jawabanku tetap sama.”

“YAA, apa kau gay? Kenapa kau tidak mau membuat kalau itu untuk yeoja?”

Kyuhyun terdiam. Gerakannya membuat nada terhenti. “Hanya ada satu orang gadis yang akan menyanyikan laguku.”

“Mwo? Jangan bilang… Mantan pacarmu itu? Siapa dia? Kau tidak pernah mau memberitahuku. Apa dia menjadi artis terkenal sekarang? Sesekali kau harus menemuinya dan menjelaskan kesalahpahaman kalian.”

Kyuhyun meletakkan gitarnya lalu berjalan menuju kamar mandi begitu saja. Sakit itu kembali menderanya. Seperti saat memorimu memaksa, menarikmu kembali ke masa lalu.

“Tadaaa…”

“Ige mwoya?”

“Tiket untuk masuk ke sekolahku. Acara festifalnya minggu depan. Aku ingin kau datang dan melihatku saat bernyanyi di atas panggung. Eothe?”

Laki-laki itu memasang raut wajah ragu, “Bagaimana ini… Aku sangat sibuk minggu depan.”

“YAA!” gadis itu cemberut, matanya menyipit, mencoba menyelidiki apakah laki-laki di depannya itu berbohong atau tidak.

Cho Kyuhyun tertawa lalu mengacak rambut gadis itu, “Araseo, aku akan datang.”

“Jeongmal? Gomawo…”
.
.
Art Seoul Highschool terlihat begitu ramai saat ini. Berbagai stand berjajar di halaman sekolah itu. Di tengah-tengahnya berdiri sebuah panggung kecil dengan tinggi lebih dari satu meter. Gadis itu bernyanyi dengan hatinya. Begitu bebas, begitu indah. Diiringi music gitar yang dipetiknya. Kyuhyun merasa hanya suara gadis itu yang terdengar di telinganya. Ia memejamkan mata, menyimpan suara itu dalam memorinya.

“Yaa, Kim Yoon Hye daebak aniya?”

“Katanya setelah lulus dia masuk ke agency dan debut tahun depan sebagai penyanyi.”

“Bagaimana? Apa aku harus menyatakan cinta padanya? Mungkin band kita akan terkenal kalau aku berpacaran dengannya.”

Mata Kyuhyun terbuka mendengar obrolan itu. Ia melihat dua orang namja yang berdiri di depannya, mereka satu sekolah dengan gadis itu.

“Idemu tidak buruk chingu ya… Haruskah kita membuatkan lagu untuknya? Atau mengajaknya bergabung dengan band kita? Eothe?”

“Menurutmu tidak apa-apa? Dia bisa kena skandal kalau ketahuan pacaran.”

“Yaa, kau tidak pernah mendengar? Itu salah satu hal yang digunakan untuk mendongkrak popularitas. Sebaiknya cepat kau nyatakan cintamu!”

Laki-laki itu terdiam mendengarnya. Perlahan, kakinya melangkah mundur, meninggalkan tempat itu. Ia pergi ke tempat yang sering digunakannya untuk berlatih bersama gadis itu. Tangannya menatap beberapa lembar kertas music. Lagu yang baru selesai dibuatnya semalam. Ia ingin gadis itu menyanyikannya. Tapi, dua namja tadi seolah menamparnya hingga kembali ke kenyataan. Saat Kyuhyun menyadarinya, gadis itu sudah terbang tinggi dari jangkauannya.

Gadis itu memiliki mimpi. Ia tidak ingin semua yang dilakukan Kim Yoon Hye sia-sia. Dan ia sendiri harus mengejar mimpinya. Agar suatu saat ia bisa menjadi orang yang pantas berdiri disebelah gadis itu. Menjadi sukses dengan kemampuannya sendiri. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk mereka. Tangannya mengambil benda persegi dari dalam kantong celana lalu mengetik sebuah pesan untuk gadis itu.

‘Bisakah kita bertemu? Aku menunggumu di tempat biasa.’

Suara ketukan itu menyadarkan Kyuhyun dari lamunannya. Ia ingat bagaimana raut wajah gadisnya saat itu. Ia ingat nada suara yang menuduhnya berbohong itu. Kyuhyun sudah menyakitinya. Juga menyakiti dirinya sendiri. Tapi ia tidak ingin menjadi penghalang untuk gadis itu, juga tidak ingin sukses karena bantuan dari gadis itu.

“Kyuhyun ah, apa kau tidur di dalam? Kenapa lama sekali? Batrei ponselku habis, apa kau punya pengisinya?”

“Cari saja di meja!” sahut Kyuhyun dari dalam kamar mandi.

Park Jung Soo sedikit menggerutu mendengar jawaban laki-laki itu. Pria tiga puluhan itu kemudian berjalan menuju meja untuk mencari pengisi batrai. Dibukanya laci meja satu-per-satu. Lalu, matanya tidak sengaja melihat sebuah kotak CD di dalam sebuah laci.

“Kim Yoon Hye…?” gumamnya sambil mengerutkan alis, “jangan-jangan…”

*****

Gadis itu menghela nafas pelan sebelum membuka tutup botol air mineralnya lalu meneguknya. Ia baru saja melatih vocalnya. Hanya ada jadwal pemotretan untuk cover albumnya hari ini. Ia masih punya banyak waktu sebelum jam tiga sore nanti.

“Oh Yoon ah!! Aku mencarimu sejak tadi.”

Gadis itu menoleh dan melihat Lee Rae Ki sedang berjalan menuju ke arahnya.

“Waeyo eonni?”

“Park Jung Soo sedang menunggumu di ruang meeting sekarang. Cepat kau temui dia!”

“Park Jung Soo?”

“Dia manager Cho Kyuhyun. Yaa, siapa tau Cho Kyuhyun mau membuatkan lagu untukmu. Palli kka!”

Kim Yoon Hye menatap wanita berambut pendek itu ragu. Kenapa ini begitu tiba-tiba? Ada apa sebenarnya? Masih dengan pikirannya yang tidak focus, Lee Rae Ki sudah menarik lengannya. Menyeretnya untuk ikut ke ruang meeting.
.
.
“Senang bertemu denganmu Kim Yoon Hye ssi, aku Park Jung Soo.”

Gadis itu membungkukkan badannya sambil menerima uluran tangan park jung soo. Menyalaminya sebelum mereka berdua duduk.

“Ada kepentingan apa anda menemuiku?”

Laki-laki itu tersenyum. “Aku manager Cho Kyuhyun, apa kau sudah tau hal itu?”

“Ye…”

“Meskipun aku sudah tiga tahun bekerja dengannya tapi tetap saja aku tidak tau apa-apa tentangnya. Saat itu aku hanya berfikir dia laki-laki yang berbakat dalam membuat lagu, kemudian aku tau, apa alasan dibalik itu semua.”

“Jeoseonghamnida, saya tidak mengerti maksud anda.”

“Dia memang pembuat lagu berbakat, tapi apa kau tau syarat yang diajukannya? Cho Kyuhyun tidak ingin menandatangani kontrak dengan agency manapun. Artinya dia akan menjadi penulis lagu freelance. Dan lagu yang dibuat Cho Kyuhyun hanya boleh dinyanyikan oleh namja.” Park Jung Soo berhenti sejenak sambil menatap gadis itu, “Sebenarnya aku menganggap hal itu tidak masuk akal sampai dia bilang padaku. ‘Jika ada gadis yang menyanyikan laguku itu adalah gadisku. Hanya dia yang boleh menyanyikannya.’ Dia tidak pernah memberitahuku siapa gadis itu. Tapi sekarang aku mengerti.”

Jantung Yoon Hye berdebar pelan. Ia masih tidak mengerti tetapi mendengar kata-kata Park Jung Soo, apa yang dia maksud sebenarnya?

“Kau tau pasti siapa gadis itu.”

“Nu-nuguseo?”

Laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. Diulurkannya sebuah keping CD itu pada Yoon Hye.

“Dia pasti akan membunuhku kalau tau aku melakukan hal ini. Keputusanmu menjadi taruhanku. Tapi aku tidak tahan melihatnya tidak punya semangat hidup. Menurutmu, kenapa pada CD itu tertulis namamu? Kau harus mendengarkannya sendiri agar percaya.”

Yoon Hye tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Gadis itu menatap kepingan CD itu dengan diam. Bahkan setelah Park Jung Soo meninggalkannya sendirian.

*****

Mata coklatmu yang tersenyum hangat
Tawamu yang berdenting seperti lonceng
Dan suaramu yang selalu terdengar dalam mimpiku
Aku ingin menyimpannya di setiap sudut memoriku

Tapi hanya kata maaf yang bisa kuucapkan padamu
Maaf telah menyakitimu begitu banyak
Maaf telah mengucapkan kebohongan padamu
Kau terbang begitu tinggi hingga aku tak bisa menjangkaumu

Kejarlah mimpi yang kau rajut
Aku disini pun akan mengejar mimpiku

Saat kita tertawa bersama
Saat kita melantunkan melodi bersama
Kenangan itu, akan kujadikan sebagai milikku yang berharga
Yang akan selalu kujaga hingga nanti

Tidak ada suara yang bisa kusampaikan padamu
Hanya lagu sederhana ini yang tercipta
Bahwa disini aku masih tetap menatapmu
Bahwa disini aku akan selalu mencintaimu

Kau bisa terbang tinggi tanpaku
Namun bersamamu aku bukan apa-apa

Aku berharap suatu hari nanti kau bisa mendengarnya
Dan menyanyikan laguku dengan suara indahmu
Lagu cinta sederhana ini…

Gadis itu mengabaikan bel pintu apartementnya yang berbunyi sejak tadi. Ponselnya mati dan ia tau, managernya itu pasti sedang frustasi saat ini. Tapi belum waktunya ia keluar sekarang. Mata coklatnya masih menatap layar laptop yang sejak tadi menyala. Video yang baru saja dipostingnya di youtube mendapat banyak respon hanya dalam waktu semalam dengan lebih dari satu juta viewers.

Berbagai artikel muncul seperti yang diharapkannya. Agency pasti akan marah padanya karena bisa mengacaukan jadwal comeback, tapi ini harus dilakukannya sekarang atau kesempatan itu tidak akan datang. Resiko terbesarnya ia harus menunda peluncuran album barunya.

Apapun yang terjadi, Yoon Hye sudah siap. Karena itu ia berani menyanyikan lagu Cho Kyuhyun yang diberikan oleh Park Jung Soo lalu mempostingnya di internet. Meskipun ia hanya duduk di tepi ranjang sambil memetik gitar, namun respon video itu sama seperti ketika ia meluncurkan single. Dan yang paling penting, netizen menemukan foto-fotonya bersama Kyuhyun yang tertempel di dinding kamarnya dalam video itu.

Setelah merasa cukup, gadis itu mengaktifkan kembali ponselnya lalu menelepon Kim Young Woon. Seperti dugaannya, laki-laki itu sedang frustasi saat ini. Berarti masalah yang ditimbulkannya seharusnya lebih dari cukup.
.
.
Braaak…

Pintu itu terbuka keras. Seorang pria berkaca-mata baru saja masuk lalu mengambil duduk di salah satu sofa yang kosong. Wajahnya terlihat seperti sedang menahan sesuatu. Ia berkali-kali menghela nafas.

“Jadi… Siapa yang akan menjelaskan semuanya padaku?” tanyanya dengan suara tenang namun seperti bom waktu yang kapan saja bisa meledak.

“Begini PD-nim, ini hanya tidak sengaja_”

“Bagian mana yang menjelaskan ketidak-sengajaan itu??” bentak pria berkaca mata yang menjabat sebagai produser di agency itu sambil membanting sebuah Koran di atas meja. Memotong kata-kata Kim Young Woon, manager Yoon Hye.

“Tenanglah dulu PD-nim_”

“Aku sengaja melakukannya.” sahut Kim Yoon Hye.

“Yaa Kim Yoon Hye!” Kim Young Woon mendelik pada gadis di sebelahnya itu.

“PDnim, aku tau ini mungkin akan merugikan agency. Aku akan membayarnya tapi… Apa kau bisa menunda informasi albumku terlebih dahulu? Ada yang harus kuselesaikan dan kemungkinan itu juga akan menjadi skandal.”

“Kau sudah tau tapi masih melakukannya, apa yang kau inginkan?”

Gadis itu terdiam, “Ada yang harus kubuktikan. Semua akan menjadi sia-sia jika aku tidak melakukannya. Alasanku untuk bernyanyi, juga untuk hidup kupertaruhkan saat ini. Sebisa mungkin aku tidak akan melanggar kontrak, jika ada yang terkait, aku akan membayarnya.”

Pria berkaca mata itu menghela nafas pelan, “Baiklah kalau kau akan bertanggung jawab. Tapi… lagu siapa yang kau nyanyikan itu? Apa kau membuatnya sendiri?”

“Itu… Lagu Cho Kyuhyun.”

“Mwo? Bagaimana kau bisa mendapatkannya?” tanya Kim Young Woon terkejut.

“Kim Yoon Hye ssi, kau tidak mencuri lagu itu, bukan?”

“Bisa dibilang seperti itu.”

“MWO?? Yaa, Yoon ah neo jeongmal… Kenapa kau melakukan itu? Kita bisa kena hukum.”

“Jangan khawatir Hyung-nim. Aku yang akan bertanggung jawab.”

“Dengan apa kau akan bertanggung jawab? Yaa, kau ingin membunuhku pelan-pelan eoh?”

“Apa rencanamu sebenarnya?” tanya PDnim.

“Hanya ini satu-satunya agar dia menemuiku.”

“Nuguya? Cho Kyuhyun? Yaa, ada hubungan apa sebenarnya kalian?”

“PDnim, aku permisi dulu. Aku yang akan menjelaskannya pada wartawan nanti. Untuk sementara katakan saja agency tidak tau masalah ini. aku mohon padamu. Geurom.”

“YAA! Kim Yoon Hye!! Kenapa kau berbuat sesuka hatimu? Kau anggap aku ini apa? Yaa!!”

Gadis itu melangkah meninggalkan ruangan itu tanpa memperdulikan managernya yang berteriak memakinya. Hanya ini jalan satu-satunya. Apakah lagu itu memang benar untuknya, atau semuanya itu hanya karangan Park Jung Soo. Ia akan tau sebentar lagi.

“Kim Yoon Hye ssi, bisa anda menjelaskan tentang video yang semalam beredar di internet?”

“Apa itu video untuk album anda yang akan datang?”

“Benarkah Cho Kyuhyun pencipta lagunya?”

Langkah gadis itu terhenti. Dalam sekejap ia sudah tenggelam diantara puluhan cahaya kamera yang menyilaukan. Berbagai mic ada tepat dihadapannya. Ia lupa bahwa harus mengambil jalan ke arah cafeteria untuk ke tempat parkir belakang gedung.

“Tolong jelaskan pada kami apa hubungan anda dengan pencipta lagu Cho Kyuhyun.”

“Foto-foto yang terlihat di dalam video, apa benar itu anda dan Cho Kyuhyun?”

Bibir gadis itu masih terkatup rapat. Ia tidak ada rencana untuk menjelaskannya di sini, saat ini. Setidaknya tidak untuk hari ini. Namun manic matanya tiba-tiba menangkap satu sosok seseorang yang bayangannya selalu hadir dalam detik waktunya.

Laki-laki itu berhenti berlari ketika mata mereka bertemu. Wajahnya terlihat khawatir. Ia hanya menggunakan kaos putih, celana jeans panjang dan sebuah jaket abu-abu tua. Perlahan Yoon Hye melangkah menuju laki-laki itu, masih dengan wartawan yang mengikuti.

Begitu para wartawan melihatnya, sebagian wartawan beralih pada laki-laki itu untuk mengajukan pertanyaan. Ketika jarak mereka tidak lebih dari satu meter, gadis itu bisa melihat bahwa laki-laki itu hanya menggenakan sandal rumah. Mungkin tadinya dia sedang tidur, begitu bangun dan mendapati lagunya telah dicuri, laki-laki itu pasti langsung mencarinya.

Untuk sejenak keduanya masih bertatapan dikelilingi oleh para wartawan. Gadis itu ingin menangis, sungguh. Tapi ia merasa ini belum saatnya. Karena itu ditahannya air matanya sekuat yang ia bisa. Bibirnya mencoba mengambil udara karena rasa sesak itu terasa begitu nyata.

“Wae? Apa kau datang untuk menuntutku karena telah mencuri lagumu?”

Satu kalimat itu meluncur dengan lancar dari bibir Yoon Hye. Membuat para wartawan langsung mencatatnya di buku notes masing-masing.

“Apa maksudnya telah dicuri? Kim Yoon Hye ssi, anda mencuri lagu Cho Kyuhyun?”

“Apa itu benar? Cho Kyuhyun ssi, apa tanggapan anda?”

“Katakan! Apa aku mencuri lagumu?” tanya gadis itu dengan air mata yang mulai menggenang.

Laki-laki itu mengalihkan pandangannya. Ia menunduk tidak ingin menatap mata gadis itu. Gadisnya. “Mianhae…” ucapnya lirih.

“Untuk apa kau minta maaf? Apa kau melakukan kesalahan?”

“Mianhae…”

“Apa aku benar-benar mencuri lagu itu?” tanya Yoon Hye sekali lagi. satu butir air mata jatuh dari kelopak matanya. Disusul yang lain.

“Ani… Kau tidak mencurinya. Lagu itu milikmu.”

Pernyataan Kyuhyun malah membuat bulir air matanya tidak bisa berhenti. Gadis itu terisak. Salah satu tangannya terangkat memukul dada kiri Kyuhyun. Lagi dan lagi.

“Pembohong!! Kau pembohong!!”

Cho Kyuhyun merasakan dadanya nyeri. Ia tidak pernah membayangkan hari ini akan ada. Hari dimana ia bisa menatap mata gadis itu secara langsung. Hari dimana ia mendengar suara itu lagi. Ia sangat terkejut saat mengetahui video itu. Ini pasti ulah Park Jung Soo. Tadinya ia ingin menghajar laki-laki itu, tapi ada yang lebih penting yang harus dilakukannya. Menemui gadis itu. Hanya saja ia tidak menyangka akan ada banyak wartawan di sekitar mereka.

“Aku membencimu! Dasar pembohong!!”

Tidak bisa menahan air matanya, Kyuhyun meraih kepalan tangan gadis yang memukulnya itu. Menariknya lalu mendekap tubuh Kim Yoon Hye. Membenamkan wajahnya pada leher gadis itu. Menyembunyikan air matanya dari semua pandangan.

“Mianhae… “ ucapnya lagi.

Tepat saat itu, Kim Young Woon datang bersama para penjaga. Mereka mencoba menyingkirkan para wartawan agar keluar dari lobi lalu menutup pintu. Menghalangi mereka untuk mengambil gambar. Tapi rasanya sudah terlambat.

“Mianhae…” Kyuhyun masih terus menggumamkan kalimat itu. Kalimat yang tidak akan mampu menebus apa yang telah dilakukannya dulu.

“Aku tidak ingin mendengar kata maaf,” balas Yoon Hye.

“Aku mencintaimu.”

Isak gadis itu semakin bertambah saat mendengarnya. Kalimat yang ditunggunya bertahun-tahun. Kalimat yang mengembalikan seluruh hidupnya. Kalimat sederhana yang hanya akan menjadi miliknya.

*****

Dua hari setelah kejadian itu, mereka mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan semuanya. Album Yoon Hye ditunda untuk sementara waktu. Lagu buatan Kyuhyun yang dinyanyikannya menjadi hits hingga keluar negeri.

“Gadis pertama yang menyanyikan lagu Cho Kyuhyun… Alasan Cho Kyuhyun tidak membuat lagu untuk yeoja… Lagu cinta untuk Kim Yoon Hye…” gadis itu berdecak pelan, “Yaa, apa menurutmu semua artikel ini tidak berlebihan?”

Laki-laki itu mengedikkan bahunya, “Semua itu benar.”

“Sepertinya aku kalah. Kau sekarang lebih terkenal dariku.”

“Seharusnya memang begitu,” sahut Kyuhyun yang sedang duduk di sofa tanpa menatap gadis itu, “dengan begitu aku bisa berdiri di sisimu tanpa penyesalan.”

Yoon Hye melemparkan korannya ke atas meja lalu merebut sebuah buku yang dibaca laki-laki itu. Ia menjatuhkan diri diatas pangkuan laki-laki yang langsung mendekapnya itu. “Apa yang sedang kau baca?” tanyanya sambil mengamati buku berjudul ‘Song of Love’ yang baru saja direbutnya.

“Kisah cinta kita,” jawab Kyuhyun singkat.

“Ternyata mereka benar-benar membuatnya menjadi novel. Apa kisah kita sebagus itu? Padahal sangat menyakitkan selama ini.”

“Mianhae…” bisik Kyuhyun dengan wajah muram.

Yoon Hye meletakkan buku itu di meja lalu menoleh kebelakang. Mendekap kedua sisi wajah laki-laki itu dengan telapak tangannya, “Kau juga merasakannya, bukan?”

Kyuhyun tersenyum lalu mencium bibir gadis itu, “Terima kasih, untuk percaya lagi padaku.”

“Hanya ucapan terima kasih?” tanya Yoon Hye dengan salah satu alis terangkat.

“Bagaimana kalau ditambah dengan cincin pernikahan? Kim Yoon Hye, ayo kita menikah!”

Untuk beberapa detik gadis itu merasa kosong. Perlahan bibirnya membentuk sebuah senyuman. Tubuh Kyuhyun tersentak kebelakang saat Yoon Hye tiba-tiba memeluknya dengan kuat. “Mmm, ayo kita menikah.” Jawab gadis itu, “jadi dimana cincinku sekarang?” tanyanya sambil melepas pelukannya.

“Tentu saja masih di toko! Aku melamarmu secara mendadak tadi.” tawa Kyuhyun.

Gadis itu langsung cemberut mendengarnya, “YAA! Dasar tidak romantis!!”

And finally they live happy ever after…


FIN