Tags

, ,

blue pearl

Karena cinta tidak mengenal kata berpisah. Ia akan selalu hidup selama perasaan itu tetap ada. Dan ia percaya, perpisahan mereka saat ini bukanlah apa-apa.

 

==========================

“Bisakah kau berhenti menatapku?” pinta gadis itu sambil mengaduk kopi yang baru saja diberinya gula.

Lee Hyuk Jae pura-pura tidak mendengarnya. Mata hitam laki-laki itu masih tetap focus pada object di depannya.

“Lee Hyuk Jae ssi…” desah Yoon Hye jengah, “berhenti memasang wajah sok imut seperti itu!”

Kening Hyuk Jae mengerut samar. Imut? Apa telinganya tidak salah dengar? Ia hanya menyandarkan dagunya di atas lengan yang bertumpu di meja sambil diam menatap gadis itu.

“Wajahmu terlihat seperti anak anjing yang mengharapkan makanan.”

Oh… Laki-laki itu tercengang beberapa saat lalu tertawa, “Kau suka anak anjing?”

“Tidak.”

“Kucing?”

“Tidak.”

“Lalu apa yang kau suka?”

Kim Yoon Hye menatap laki-laki itu beberapa saat. Merasa aneh dengan pertanyaan yang ditujukan kepadanya, “Sendiri.” Jawab gadis itu kemudian.

“Kenapa?”

“Karena aku hanya perlu menjaga diriku sendiri.”

Laki-laki itu tersenyum, “Karena kau takut untuk bersikap peduli. Sama sepertiku.”

“Kemarin… Sebelum hujan, apa kau melihatnya?”

“Melihat apa?” tanya Hyuk Jae sambil menarik cangkir kopi yang sejak tadi diaduk oleh jemari gadis itu.

Yoon Hye terdiam. Pandangannya menerawang. Ia bahkan tidak sadar cangkir kopinya sudah berpindah tangan. “Aku dan orang itu… Apa kau melihatnya? Apa kau mendengarnya?”

“Kau mau menceritakannya padaku?”

“Tidak. Aku ingin kau melupakannya.”

“Aku tidak bisa.” Jawab Hyuk Jae langsung. Membuat yoon hye menatapnya tajam. “bagaimana aku bisa melupakan saat dimana hatiku memutuskan untuk melindungimu? Aku tidak akan melepaskanmu.”

Gadis itu tersentak. Tubuhnya sontak berdiri, membuat kursi yang didudukinya berderit keras. Beruntung suasana cafeteria sedang sepi. Hanya ada beberapa orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Yoon Hye menyambar tasnya di atas meja lalu melangkah pergi dengan cepat. Tidak… Ia tidak boleh membiarkan orang lain masuk dalam kehidupannya lagi.
.
.
Suasana bukit itu sunyi. Hanya terdengar suara angin yang berhembus lembut. Gadis itu duduk bersandarkan sebuah pohon dengan sebuah papan kecil di batangnya. Cho Kyuhyun. Nama itu tertulis pada papan kecil itu.

Untuk beberapa menit yang berlalu, gadis itu hanya diam. Namun rasa sakit yang membuatnya sulit bernafas semakin terasa. Air matanya meluncur jatuh.

“Oppa, nan eothokeh?”

Satu pertanyaan tanpa ada jawaban.

*****

“Namanya Lee Hyuk Jae. Dia anak bungsu Lee Sung Joo sekarang dia tinggal dengan ibunya. Laki-laki itu sekarang sekolah ditempat yang sama dengan nona namun berbeda jurusan. Mereka terlihat bersama beberapa kali.”

“Kau bilang Lee Sung Joo?”

“Benar tuan. Lee Sung Joo. Orang yang telah membunuh istri anda.”

Pria tua itu menghembuskan cerutunya dengan tenang. Matanya menatap lurus ke depan. “caRi tau apa yang dilakukan Lee Hyuk Jae. Mungkin dia ingin balas dendam padaku.”

“Baik tuan.”

*****

Laki-laki itu meneguk minumannya dengan kasar. Sudah tiga hari ini ia tidak bertemu dengan gadis itu. Entah hanya perasaannya atau gadis itu memang sengaja menghindarinya. Lee Hyuk Jae tau jelas apa alasan gadis itu untuk menghindarinya.

“Oh, kau masih disini?” seorang laki-laki dengan kaos tanpa lengan baru saja masuk ke dalam ruang dance, “akhir-akhir ini kau sering disini, Hyuk Jae-ya.”

“Donghae ya… Soo In- maksudku Kim Yoon Hye… Apa masih bersama dengan kekasihmu?”

“Entahlah, aku jarang melihatnya sekarang. Rae Ki juga tidak bercerita apapun.

Lee Hyuk Jae terdiam. Ia tau. Sangat tau bahwa mungkin tindakannya terlalu cepat. Gadis itu telah kehilangan orang-orang yang dicintainya dan mungkin ia tidak ingin ada orang lain lagi yang masuk ke dalam hidupnya. Laki-laki itu menghela nafas. Kenapa mereka harus terlahir dari keluarga mafia?

“Lee Hyuk Jae!! Ada yang mencarimu!”

Kedua laki-laki itu menoleh ke arah pintu. Mereka melihat salah satu teman tim dance mereka, Hankyung sedang berdiri di ambang pintu.

“Nuguya?” tanya Hyuk Jae.

Hankyung hanya mengangkat bahunya tidak tau, “Dia menunggumu di taman belakang.” tambahnya kemudian berlalu pergi.

Laki-laki itu mengusap wajahnya yang terlihat lelah. Ia menepuk pelan bahu Lee Donghae sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan itu. Setelah ini ia harus benar-benar mencari gadis itu.

“Lee Hyuk Jae ssi?”

Langkah kaki itu terhenti saat telinganya mendengar namanya dipanggil. Saat mengangkat wajah, Hyuk Jae baru menyadari ia sudah berada di taman belakang universitas. Belum sempat menjawab, kedua lengannya sudah diapit oleh dua orang yang tidak dikenalnya.

“Siapa kalian?”

******

“Kau terlihat sering melamun sekarang. Waeyo?” tanya Lee Raeki sambil mengaduk jus tomat miliknya yang dingin.

Gadis itu tersenyum sambil menggeleng pelan. Meskipun ada teman yang duduk di depannya, pikirannya selalu berputar-putar seperti benang kusut. Ia benci kenyataan ini. Kenapa Lee Hyuk Jae harus melihatnya saat itu? Jika saja ia bisa mencuci ingatan namja itu.

“Chagiya!!”

Kedua gadis itu menoleh saat seorang namja datang dengan nafas tersengal. Lee Donghae memegangi perutnya yang sakit. Sepertinya baru saja ia berlari sekuat tenaga hingga nafasnya habis. Butuh waktu beberapa detik untuknya bisa membuka mulut.

“Gawat…” ucapnya dengan suara seperti tercekik, “Lee Hyuk Jae… Dia dibawa orang… Aku hanya ingin mengantarkan tasnya…”

“Kau ini bicara apa? Minum ini dulu!” Raeki mendorong gelasnya ke hadapan laki-laki itu tapi ditolak dengan gelengan kepala.

“Tadi Hankyung bilang ada yang ingin menemui Lee Hyuk Jae di taman belakang, jadi dia pergi ke sana. Tapi tasnya tertinggal. Saat aku mengantarkannya, aku melihat dia dibawa oleh beberapa orang berpakaian hitam seperti mafia. Apa yang harus kulakukan?”

Sraaak…

Gadis itu sontak beranjak dari duduknya hingga membuat kursi yang ditempatinya berderit keras. “Apa kau melihatnya sendiri?” tanya Yoon Hye. Sinar matanya berubah menjadi ketakutan dan wajahnya memucat.

“Kalau aku tidak melihatnya aku tidak akan berlari seperti ini. Apa kita harus menghubungi polisi? Mereka terlihat menyeramkan.”

“Jangan lakukan apapun, tunggu disini!” pinta Yoon Hye sambil menyambar tasnya kemudian berlari pergi.

“YAA EODIGA???”

Gadis itu berlari… Terus berlari secepat yang ia bisa… Tidak, pikirannya menjadi campur aduk sekarang. Ia bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada laki-laki itu. Ia yakin itu adalah orang-orang ayahnya. Wajah Cho Kyuhyun terlihat lagi dalam pikirannya, membuat air matanya jatuh tanpa sadar.

Ini bukan mimpi… Ia yakin itu. Karena itu ia mencoba berlari lebih cepat. Lagi dan lagi… Ia tidak ingin ada yang terulang lagi. Ia tidak ingin.

‘Kau menyukai hujan… tapi kau tidak ingin basah oleh airnya.’

‘Yoon Hye ssi, apa kau percaya takdir?’

‘Bagaimana aku bisa melupakan saat dimana hatiku memutuskan untuk melindungimu? Aku tidak akan melepaskanmu.’

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun yang lalu, gadis itu menginjakkan kakinya lagi di rumah. Tempat yang membuatnya membuang seluruh identitas dan harapan.

BRAAAAK

Pintu ruangan itu terbuka keras. Nafasnya tersengal. Wajahnya basah oleh air mata dan helaian rambut panjangnya berantakan.

“Apa yang kau lakukan?”
.
.
Pria itu sedang menghisap cerutu dibalik meja besarnya dalam sebuah ruangan yang terasa suram. Ada sekitar sepuluh orang penjaga berpakaian jas hitam di dalamnya. Ditambah dua orang yang tengah memegang lengan Lee Hyuk Jae dengan erat.

“Lepaskan dia!” perintah pria itu dengan suara tenang.

Lee Hyuk Jae hanya menatapnya waspada. Sebenarnya ia sudah lama mempersiapkan hatinya untuk hari seperti ini. Hari dimana ia bertemu dengan KIM JANG WOO. Pembunuh appanya. Namun tetap saja, saat melihatnya, Hyuk Jae ingin sekali membunuh pria itu dengan kedua tangannya sendiri.

“Apa tujuanmu?” Kim Jang Woo bertanya dengan nada yang sama.

“Apa maksudmu?” balas Lee Hyuk Jae waspada.

“Kau bersekolah di tempat yang sama dengan putriku lalu mendekatinya. Aku sudah tau semuanya.”

Laki-laki itu mendengus lalu tertawa pelan, “Apa yang kau tau?”

“Kalau kau ingin menyakiti putriku untuk balas dendam, lebih baik hentikan saja. Aku akan membalasnya lebih dari yang bisa kau bayangkan.”

Ada tatapan sedih saat Hyuk Jae mengingat wajah gadis itu. Kenapa dia harus terlahir sebagai putri dari pria dihadapannya ini?

“Kau menyebutnya putrimu. Tapi apa dia juga akan menyebutmu sebagai appa? Apa kau appanya? Atau hanya pembuat luka untuknya?”

Kim Jang Woo menghentikan kegiatannya menghisap cerutu. Matanya yang kecil menatap tajam laki-laki ditengah ruangan itu, “Aku akan melindunginya apapun yang terjadi. Termasuk dari batu kerikil sepertimu.”

“Dan aku akan menjadi batu kerikil yang kuat. Begitu kuat hingga dapat menutupi tanah tempatnya tumbuh. Hingga tidak ada yang bisa mengambil tempatnya lagi.”

“Apa dia sudah tau kalau kau adalah anak dari pembunuh istriku?”

“Jangan lupa, kau juga pembunuh dari Hyung dan Appaku.”

“Bagaimana kalau dia tau ini?”

“Kau_” rahang Hyuk Jae mengeras. Ia menatap pria itu penuh kebencian hingga ingin diremukkannya sekarang juga.

BRAAAAK…

Pintu ruangan itu terbuka keras. Nafas gadis itu tersengal. Wajahnya basah oleh air mata dan helaian rambut panjangnya berantakan.

“Soo ya…” gumam Kim Jang Woo terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka putrinya akan datang. Dengan sigap, dua anak buahnya langsung menahan lengan Lee Hyuk Jae, menariknya agar tidak mendekati gadis itu.

“Apa yang kau lakukan…?” tanya Yoon Hye dengan suara serak, “APA YANG KAU LAKUKAN???” teriaknya.

“Soo ya… Appa akan bicara denganmu_”

“Jangan sebut namaku, jebbal… Bahkan hanya dengan panggilanmu saja aku merasa tersayat pisau. Kenapa kau terus melakukan ini padaku? Apa salahku?” pipi gadis itu basah, matanya menatap dari balik lapisan bening miliknya.

“Aku hanya ingin melindungimu, Soo ya…”

“Dari apa? Kau ingin melindungiku dari apa?”

“Kau tidak tau siapa laki-laki ini.”

“Jangan dengarkan dia, Yoon ah!” teriak Hyuk Jae, “jangan dengarkan dia!”

“Aku tidak bisa membiarkannya dekat denganmu. Dia_”

“Kau tidak pernah membiarkanku dekat dengan siapapun!” potong Yoon Hye, “kau merebut siapapun yang dekat denganku. Karenamu mereka meninggalkanku…”

“Tapi kali ini berbeda, Soo ya… Dengarkan appa dulu!”

“Aniya! Jebbal Yoon ah… Jangan dengarkan apapun.” pinta Hyuk Jae, “berhenti! Apa kau ingin membunuh hatinya lagi? apa kau benar-benar appanya?” tanya Hyuk Jae dengan tatapan bengis pada pria itu.

“Apa yang kalian bicarakan?”

“Appanya adalah pembunuh uri eomma.”

DEG

Hyuk Jae menarik dirinya sekuat tenaga hingga lepas dari anak buah Kim Jang Woo. Mereka langsung menodongkan pistol padanya. Laki-laki itu berlari lalu meraih kepala Yoon Hye, menutup kedua telinga gadis itu rapat-rapat dengan telapak tangannya.

Air mata gadis itu meluncur melewati pipi dengan tubuh mematung. Ia bahkan tidak bisa merasakan hangatnya tangan besar Hyuk Jae yang menangkup kedua sisi kepalanya. Menutup telinganya.

“Jangan dengarkan dia… Aku tidak ingin kau terluka…” air mata laki-laki itu jatuh, ia menempelkan keningnya pada kening gadis itu, “Aku yang akan mengatakannya sendiri padamu nanti. Kumohon, saat ini jangan dengarkan dia.”

Gadis itu terisak. Meskipun laki-laki itu sudah melarangnya, tetap saja kalimat pria itu membuatnya mengerti segalanya. Jika appa Hyuk Jae adalah pembunuh eommanya, berarti appanya adalah pembunuh Hyung dan appa laki-laki itu.

Perlahan tangan Yoon Hye menarik lengan laki-laki itu agar tidak menutupi telinganya lagi. Ia menatap pria itu masih dengan air mata yang berjatuhan.

“Aku ingin menyelesaikan masalah ini sendiri. Bisakah kau untuk tidak ikut campur? Aku sudah mengerti apa yang terjadi. Bahkan jika aku harus mati sekalipun itu adalah sesuatu yang pantas. Dengan begitu aku mungkin bisa menebus luka banyak orang yang pernah kau sakiti.”

“Jangan bercanda Soo ya, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!”

“Appa… Sampai kapan kau akan mementingkan dirimu sendiri? Jika aku memang putrimu, biarkan aku melakukannya. Mungkin dengan hal ini, aku juga bisa menghapus kebencianku padamu. Ini permintaanku sekali seumur hidup. Jebbal…”

Kim Yoon Hye memegang lengan Lee Hyuk Jae lalu menariknya pelan. Membawanya pergi dari ruangan itu. Tapi anak buah Kim Jang Woo enggan beralih, masih tetap sambil menodongkan pistol.

“Biarkan mereka pergi…”

Begitu perintah itu keluar, anggota mafia itu menyingkir dari depan pintu. Membiarkan keduanya pergi. Mungkin ini yang terakhir. Ya, kesempatan terakhir Kim Jang Woo untuk menjadi appa bagi putrinya.

*****

Angin malam itu bertiup sedikit lebih kencang. Gadis itu menggigil dalam diam. Ia tidak tau mana yang kedinginan, tubuhnya atau hatinya.

“Memang benar aku membenci Kim Jang Woo. Begitu membencinya hingga aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri. Dia merampas kebahagiaan keluarga kami. Uri hyung, uri appa… Hingga membuat uri eomma selalu menangis setiap malam dan membuatku sering mimpi buruk.” suara Lee Hyuk Jae terdengar serak dalam keheningan malam. Air sungai Han yang ada dihadapan mereka, bagai cermin hitam yang menenggelamkan. “memang benar aku ingin balas dendam dengan mendekatimu. Untuk membuatmu terluka. Tapi… seperti yang kutanyakan sebelumnya, apa kau percaya takdir?

Aku sama sepertimu. Aku juga tidak mempercayainya. Aku tidak tau takdir itu bagaimana. Tapi… setelah aku melihatmu, kau memiliki mata itu. Mata yang sama dengan uri eomma. Mata yang penuh luka. Aku penasaran… kenapa Kim Soo In membuang identitasnya dan merubah namanya menjadi Kim Yoon Hye? Lambat laun aku mengerti… Tanpa sadar aku jadi ingin melindungimu. Entah sejak kapan, melihatmu dengan mata penuh luka seperti itu menjadi hal yang menyakitkan untukku. Aku tidak tau kenapa aku harus perduli. Mungkin aku sudah jatuh cinta padamu.

Saat ini pun aku ingin mengutuk takdir. Kenapa kita harus dilahirkan dengan kisah seperti ini. Tapi jika takdir dan kisah kita berbeda, akankah kita akan bertemu?”

“Kita akan bertemu… Kita pasti akan bertemu.” potong Yoon Hye dengan tatapan lurus ke depan, “kau membawa separuh dari mutiara itu.”

Lee Hyuk Jae tidak menjawab. Ia yakin gadis itu masih belum selesai berbicara.

“Eomma yang mengatakannya. Bahwa seseorang yang membawa separuh dari mutiara milikku itu berarti adalah belahan jiwaku. Kau adalah separuh dari bagian diriku, aku percaya itu. Tapi untuk bersama dengan belahan jiwa, tidak ada yang mengatakan hal itu pasti. Sekarang aku tau… Kita tidak akan pernah bisa bersama. Saat kita saling menatap, hanya akan ada luka.”

“Aku tau… Aku juga tidak bisa melupakan apa yang sudah terjadi. Tapi ada sisi lain dari diriku yang ingin melindungimu dan melihat senyummu. Mungkin ini terdengar egois, tapi aku ingin bersamamu. Perasaan untukmu sepertinya lebih kuat dari rasa benci yang kumiliki.”

“untuk itu kita perlu waktu.” gumam Yoon Hye pelan.

“Bisakah kita percaya pada mutiara shappire blue ini? Nanti, saat kita sudah bisa berdamai dengan apa yang sudah terjadi, saat kita bisa membuang segala hal yang menyakitkan, saat kita bisa memulainya dari awal, aku berharap kita bisa bertemu lagi.”

“Baiklah… Ayo kita percaya pada mutiara ini.”

“Saat ini, sekali saja aku ingin jujur padamu. Tanpa mengingat masa lalu ataupun harapan di masa yang akan datang. Pada detik ini. Untuk gadis yang sekarang berada dihadapanku, siapapun namanya…” jemari itu terulur, menangkup kedua sisi wajah Yoon Hye. Mata mereka bertemu dari balik lapisan bening yang kemudian meluncur jatuh, “Aku mencintaimu…” ucapnya tanpa ragu sebelum mengecup bibir gadis itu.

‘Aku mencintaimu…’

Satu kalimat sederhana yang menegaskan bahwa gadis itu masih memiliki eksistensi. Ia dicintai. Itu sudah lebih dari cukup dari semua hal yang dibutuhkannya dalam hidup. Meskipun yang ada dalam genggamannya hanyalah harapan dari keseluruhan perasaannya. Selama mereka saling percaya satu sama lain, separuh yang telah hilang pasti akan kembali lagi.

******

= Five Years Later =

Gadis itu sedang melamun sambil menatap jalanan kota Paris yang terpampang dihadapan jendela kaca besarnya. Tiga tahun yang lalu, appanya menyerahkan diri ke polisi dan dirinya sendiri pergi untuk sekolah di Negara Prancis. Saat ini, dengan bakat yang dimilikinya, gadis itu memulai semuanya dari awal. Merubah bisnis appanya menjadi seperti yang diharapkannya.

“Miss Yoon? Ini data kelengkapan toko baru yang akan dibuka di Korea. Silahkan diperiksa.”

Suara gadis berambut pirang itu membuatnya mengerjap pelan, tersadar dari lamunannya. ia tersenyum sambil meraih file yang diberikan gadis itu, “Thank you, Amby,” ucapnya pelan.

Matanya menatap file itu dengan pikiran menerawang. Kemudian, tanpa sadar jemarinya menyentuh sebuah gelang dengan separuh mutiara blue shappire di lengan kirinya. Menghilangkan rasa dingin yang menyelimuti hatinya. Mungkin ini sudah saatnya.
.
.

Mengapa orang menganggap kisah cinta Romeo dan Juliet, Cleopatra dan Anthony, Laila dan Majnun, ataupun Rose dan Jack dalam kapal Titanic itu begitu romantis bila pada kenyataannya semua kisah itu berakhir tragis? Mungkin sebelumnya namja itu tidak pernah tau, tapi sekarang ia menemukan jawabannya. Karena cinta tidak mengenal kata berpisah. Ia akan selalu hidup selama perasaan itu tetap ada. Dan ia percaya, perpisahan mereka saat ini bukanlah apa-apa.

“Oh… Hyung juga membelinya?”

Lee Hyuk Jae mengalihkan pandangannya sambil berusaha focus menyetir saat mendengar pertanyaan dari seorang namja disampingnya, lee jong suk. ia adalah seorang manager sekaligus pelatih dance di sebuah agency saat ini. “Apa?” tanyanya balik.

“Kalung itu.”

Namja itu mengernyit pelan, “Waeyo?”

“Itu populer di kalangan yeoja. Mereka bilang, ada sebuah toko accessories di Prancis yang terkenal dengan nama Blue Pearl. Mereka menjual accessories couple dengan setengah batu mutiara biru. Katanya, siapapun yang memakainya pasti akan bertemu lagi meskipun terpisah. Bahkan nunnaku juga membelinya.”

“Dimana toko itu?” tanya Hyuk Jae.

“Itu… Sepertinya tidak jauh dari sini… Nah itu dia!”

Lee Hyuk Jae menepikan mobilnya. Matanya menatap sebuah toko dengan judul Blue Pearl yang tidak terlalu besar itu. Hatinya berkecamuk. Ia merasa begitu dekat dengan gadis itu saat ini. Tanpa sadar, tangannya sudah melepas setbealt dan membuka pintu mobil.

“Hyung eodiga?” tanya Lee Jong Suk sambil mengikutinya.

Seluruh focus Hyuk Jae seolah-olah hanya terpusat pada tempat itu. Kakinya melangkah setapak demi setapak semakin dekat. Terdengar bunyi kling saat ia mendorong pintu kaca toko. Ia melihat segerombolan beberapa gadis dan matanya terpaku pada salah satunya.

Pada gadis berambut panjang itu, pada gadis yang kini tengah tersenyum, pada gadis yang telah membawa hatinya, pada gadis yang membawa setengah kehidupannya.

“Hyung, apa kau ingin membeli untuk yeojachingumu juga? Bukankah kau sudah punya? Kita harus cepat pergi sebelum ada yang mengenaliku.” Bisik Lee Jong Suk sambil menarik-narik kemeja namja itu.

“Cogiyo, ada yang bisa saya bantu tuan?” tanya seorang pelayan yang baru saja menghampiri mereka.

Nyatanya sapaan itu telah menarik perhatian dari si pemilik toko. Gadis itu mengangkat wajahnya dan saat itulah manik mata mereka bertemu. Tanpa ribuan kata, hanya dengan tatapan mereka mengungkapkan semuanya. Air mata gadis itu meluncur jatuh sebelum menggerakkan kakinya untuk melangkah. Selangkah demi selangkah… semakin cepat hingga dia berlari.

Tepat saat tubuh itu menabraknya, Lee Hyuk Jae memberikan tempat yang pas untuk gadis itu dalam dekapannya. Ia merasa begitu lega hingga merasa seperti letupan air mendidih yang membuatnya sesak.

“Aku pulang…” bisik gadis itu pelan, masih memeluk erat leher Lee Hyuk Jae.

“Selamat datang,” balasnya lirih.

Benarkah legenda blue pearl itu kenyataan? Pada akhirnya, kepercayaan dan ketulusan itulah yang menjadikannya nyata. Selama perasaan itu ada, meskipun detik berjalan, hari berganti dan waktu telah berubah, semuanya akan baik-baik saja. Sesederhana itu…

 

 

FIN