Tags

,

fallen

Tapi karena hanya dengan cara itu, satu ikatan bisa terwujud…

antara kau dan aku…

==========================================================

Aku mencintainya…

Seperti bunga yang selalu menunggu sang kumbang menghampirinya. Walaupun kumbang datang hanya untuk menghisap sari sang bunga.

Aku mencintainya…

Dia yang saat ini berada di hadapanku dengan bau alcohol yang menyengat. Dulu dia adalah sunbae saat aku masuk senior highschool dan aku tidak percaya bisa melihatnya lagi sekarang. Di tempat ini. Di halte bus depan gedung kantorku. Tergeletak tidak sadar di salah satu bangkunya.

Batinku berkecamuk. Apakah aku harus membawanya? Sejenak aku hanya berdiri mematung menatapnya. Apa alasan Tuhan mempertemukan kami kembali setelah tujuh tahun berlalu? Apakah ini suatu kebetulan? Atau takdir?

Aku tidak tau kalau keputusanku untuk membawanya pulang itu adalah suatu hal yang bisa membuatku berada di surga dan neraka sekaligus. Karena aku tidak tau harus menyesalinya atau tidak…

#####
Sudah tiga bulan sejak malam itu. aku menatap beberapa lembar uang di atas nachkastku. Bahkan aromanya masih tercium di ranjangku bekasnya tidur semalam. Tanpa bersuara, aku mengambil lembaran uang itu lalu memasukkannya ke dalam laci pertama.

Aku tidak membutuhkannya…

Karena aku bukan pelacur seperti yang disangkanya selama ini.

“Maaf sudah merepotkanmu. Kau pasti pekerja di bar itu bukan? apakah ini apartementmu? Aku akan kembali lagi saat membutuhkanmu. Aku tidak suka sering berganti pasangan. Ini untukmu, kurasa itu lebih dari cukup.”

Itu yang dikatakannya saat itu. hatiku terasa kosong mendengarnya hingga tidak tau harus berkata apa untuk menjelaskan semuanya. Ini memang salahku yang tidak bisa menolaknya malam itu meskipun aku tau dia mabuk. Tapi… Jika hal ini tidak terjadi, apakah kami masih akan bertemu kembali?

Dia seperti racun yang hanya dengan setetes airnya bisa menyebar ke seluruh system syaraf tubuhku. Mematikan. Aku menyukai setiap sentuhannya, juga desah parau suaranya yang memanggil namaku. Namun mengapa semua itu terasa menyakitkan setelahnya mengingat fakta bahwa aku tidak lebih hanya sebagai teman perengguk nafsunya.

Aku mencintainya…

Tanpa syarat, tanpa balasan.

Bila lukaku ini sebagai penebus waktu untuk bersamanya, biarlah layu sang bunga untuk kumbangnya…

 

#####
Hari ini aku melihatnya. Saat aku baru selesai menemani klien makan siang bersama. Dia sedang duduk cukup jauh dari tempatku namun masih terlihat jelas.

“Yaa, bukankah itu Cho Kyuhyun dan tunangannya?” tanya salah satu temanku.

“Kau tau dia?” sahut temanku yang lain.

“Tentu saja… Tunangannya itu adalah putri produser agency terkenal. Kalau Cho Kyuhyun menikah dengannya, kau tidak akan tau seberapa banyak warisan yang akan di dapatkan olehnya.”

Aku berusaha menulikan diri dari pembicaraan mereka. Aku berharap tidak pernah tau hal ini. Dan lebih baik jika aku memang tidak tau. Rasanya lebih sakit dari yang kubayangkan sebelumnya saat menyadari ikatan kami hanyalah setipis benang.

#####
“Kim Yoon Hye ssi, klien untuk pemesanan box iklan yang ada di perempatan Myeondong kita sudah datang. Bawa dokumen yang diperlukan dan ikut aku ke ruangan meeting!”

“Ne, Sajangnim.”

Aku melihat keterkejutan di wajahnya lebih dari keterkejutan yang kurasakan. Berusaha menutup benang tipis yang terjalin, aku membungkukkan tubuh. Memperkenalkan diriku padanya. Dengan cara yang normal untuk pertama kalinya. Menyebutkan statusku dalam perusahaan tempatku bekerja yang sudah jelas, bukan nama bar yang pernah dikunjunginya.

Namun sepertinya semua itu sia-sia… Aku tetap perempuan panggilan di matanya.

“Jadi… Saat hari terang kau menjadi pegawai normal dan saat petang menjadi teman tidurku, eoh?”

Pertanyaan itu seperti belati yang digunakan oleh orang yang kucintai untuk menusuk jantungku. Air mataku meluncur jatuh. Dosakah bila aku membiarkannya keluar, menguap hingga kemudian hilang tak berbekas?

Dalam gelap ruang kamarku, aku melihatnya dari balik selimut yang membalut tubuhku. Dia sedang mengancingkan lengan kemejanya. Bersiap untuk pergi.

“Kau yang pertama…” ucapku lirih dalam luruh tangisku.

“Mwo?”

“Kau laki-laki pertama yang kuijinkan tidur denganku, sunbae…” suaraku bergetar. Berusaha menahan gemuruh yang bergejolak di dalam dadaku, “Aku bukan pekerja di bar. Dan aku juga tidak membutuhkan uangmu. Aku hanyalah gadis yang pernah menjadi hobae-mu. Gadis yang pernah jatuh cinta padamu. Dan yang hingga kini mungkin masih mencintaimu…”

Bibirnya terkatup rapat meskipun matanya masih menatapku. Dan aku tau ini adalah akhir… Mungkin benang itu terlalu tipis hingga akhirnya terputus.

Bukan karena suka, bunga menyerahkan sarinya kepada sang kumbang

Bukan pula karena bahagia, bunga membiarkan kumbang membuatnya layu

Tapi karena hanya dengan cara itu, satu ikatan bisa terwujud…

antara kau dan aku…