Tags

,

wsdeTidak terdefinisi, tidak terlihat, dan tidak terbaca. Abstrak.

For you, Aniss Kim. Terima kasih karena sudah menunggu begitu lama dan Maaf karena baru sekarang terwujud.
Untuk pemberi ide yang kalimatnya saya pakai dalam tulisan ini, Terima kasih. Maaf saya nggak minta ijin lebih dulu. Dont be angry.

=============================

Namanya Kwon Ji Yong.

Teman sekolahku sekaligus namja satu-satunya yang kusukai.

Orang bilang aku adalah gadis tangguh yang tidak butuh siapa pun lagi untuk menjagaku karena aku bisa melindungi diriku sendiri dari preman sekali pun. Memang aku pernah ikut club karate selama dua tahun. Tapi, setangguh apa pun aku tetap seorang gadis.

Dan dia satu-satunya namja yang berani berteriak padaku. Yang tidak segan memukul kepalaku dan memarahiku kalau aku melakukan sesuatu yang tidak benar. Aku masih ingat pertemuan pertama kami malah dihiasi dengan adu mulut soal pertanyaan ‘mana yang lebih dulu di ciptakan? Semut hitam atau semut merah?’

Karena aku terbiasa melakukan segala hal sendiri, hadirnya memberikan rasa yang lain. Membuatku merasa bahwa aku tidak sendiri. Seseorang yang sudah berhasil membuatku mengakui keberadaannya. Aku tidak suka mengalah tapi bersamanya aku selalu kalah tanpa harus mengalah.

Ne.

Na… Geu namja ga, mani joahae.

Kalimat yang selalu ingin kusampaikan kepadanya. Namun hingga kini masih tertahan pada pangkal tenggorokanku. Dia tumbuh dengan begitu mengagumkan. Ketika sadar, mataku sudah silau oleh cahayanya.

Benar. Dia sudah berubah menjadi bintang saat ini. Aku masih tetap memanggilnya Ji Yong-ah, tapi yang lain memanggilnya dengan nama G-Dragon. Atau GD Big Bang.

Suara pada laptop menyadarkanku dari kenangan tentang namja itu. Ini gara-gara temanku, Kim Yoon Hye yang tiba-tiba datang sambil memamerkan tiket konser dimana ada Big Bang yang menjadi bintang tamunya. Membuatku harus mengingat namja itu.

Dan namja yang kuingat itu saat ini sedang memanggilku lewat video call pada laptopku. Jemariku segera menjawab panggilannya. Beberapa detik kemudian, wajahnya sudah terpampang pada layar laptopku.

“Wae?” tanyaku langsung.

“Yaa! Kapan kau akan bersikap lembut padaku, eoh?” protesnya.

“Kau sendiri yang bilang aku seperti namja, jadi untuk apa bersikap lembut?” balasku, “Jadi ada apa?”

“Apa yang kau maksud dengan ada apa? Aku menghubungimu karena ingin menanyakan hal itu!”

“Mwo?” aku menatapnya dengan bingung.

“Kau bilang ingin meminta ijin! Apa itu?”

Aku menatapnya dengan ragu, “Aku takut kau tidak suka.” Jawabku pelan.

“Kalau begitu jangan! Aku tidak memberimu ijin!”

“Tapi aku rindu_” kuputus kalimatku. Sadar bahwa seharusnya aku tidak mengatakan hal itu.

“MWORAGO? KAU INGIN MENEMUI KIM JUNSU, HAH??”

Aku menatapnya sejenak. Kenapa dia jadi membawa nama Junsu? Meskipun aku tidak tau kenapa dia harus semarah itu. Bukankah dia dan Kim Junsu teman baik? Kenapa harus semarah itu jika tau aku bertemu atau makan bersama dengan Junsu?

“Aku rindu melihatmu. Kenapa kau tidak pernah memperbolehkanku untuk melihat konsermu?”

Ji Yong terdiam. Begitu juga denganku. Dari awal dia debut menjadi seorang artis hingga sekarang menjadi bintang besar, dia selalu melarangku untuk melihat konsernya.

“Kau tau, Kim Min Young… Aku yang ada di atas panggung itu adalah diriku yang memakai topeng. Bukan diriku yang sebenarnya. Meskipun semua orang memanggilku GD, setidaknya masih ada yang memanggilku Kwon Ji Yong. Terserah kau suka atau tidak, tapi aku hanya akan membagi diriku yang sesungguhnya kepadamu.”

“Ji Yong-ah… Aku datang ke konsermu bukan untuk melihatmu yang berada di atas panggung. Tapi aku ingin melihat ‘kau’. Bukan dari layar seperti ini. Seperti apa kau sekarang? Apa kau semakin tinggi? Apa kau semakin kurus? Atau semakin gendut? Apa sekarang kau memiliki jerawat? Aku hanya ingin melihat itu.

Karena kita tidak pernah bertemu, itu satu-satunya cara untukku bisa melihatmu, bodoh!!”

Aku menunduk, menyembunyikan wajahku. Berharap poni rambutku bisa menutupi mataku yang berkaca-kaca. Sial. Kenapa aku selalu seperti ini jika sudah bersamanya?

“Young ah… Kau tidak ingin memelukku?”

Air mataku semakin mendobrak pertahananku. Jika bisa… Jika bisa sudah kulemparkan diriku sendiri padamu sejak tadi Kwon Ji Yong!

“Hyung cepat mandi!!”

Teriakan kencang itu menyelamatkanku. Sepertinya itu suara Daesung.

“Kurasa tidak.” Jawabku untuk pertanyaannya yang tadi, “Kau belum mandi!”

“Tapi aku selalu mempesona dan wangi,” cengirnya dengan percaya diri.

Aku mendengus pelan, “Cepat mandi! Anyeong!!” kututup video call itu tanpa menunggu jawabannya.

Kamarku kembali menjadi hening. Aku menghembuskan napas yang sepertinya tertahan sejak tadi. Harus kuapakan sepotong perasaan milikku ini? Jika benang merah pada jemariku ini kutarik, apakah dia bisa merasakannya?

Nyatanya aku tidak berani melakukannya karena aku takut. Aku takut bahwa benang merah yang terhubung pada jemariku, bukan pada jemari miliknya ujung satunya tertaut. Dan sampai sekarang aku menyebut hubungan kami ini abstrak. Tidak terdefinisi, tidak terlihat, dan tidak terbaca.

Ya. Abstrak.